Perjalanan Menggapai Puncak Gunung Fuji


Fuji yang dari kejauhan menyiratkan keindahan panorama. Fuji yang dari kejauhan adalah hampir selalu jadi obyek dari foto dan lukisan spektakuler. Fuji yang adalah seakan simbol keindahan, puncak tertinggi dari segala puncak di negeri matahari terbit ini, akan tampak wajah aslinya jika kita menyentuhnya.

well, perjalanan menggapai puncak gunung fuji ini sebenarnya sudah saya lakukan hampir tiga tahun yang lalu, tepat di puncak musim panas tahun 2009 di bulan Agustus. Biar bagaimanapun perjalanan tersebut adalah kisah yang tetap akan saya kenang selamanya, karena walaupun pengalaman tersebut seru tapi mungkin saya tidak akan ingin mengulanginya lagi :). Gunung Fuji (富士山 Fuji-san]) adalah gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (timur), Fuji-Yoshida(utara) dan Fujinomiya (barat daya). Gunung setinggi 3.776 m ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji. Gunung ini diperkirakan terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu. Continue reading

Sharing Pengalaman Studi di Jepang (13): Ramadhan di Tokyo


Brrt…brtt…brrtt… suara ketai yang saya set dalam mode getar seakan merengek-rengek menandai ada sms yang masuk. Jam 22.22 JST sms dari seorang sahabat “ Assalamualaikumwrwb. Hasil keputusan isbat ICJ memutuskan 1 Ramadhan besok rabu 11 Agustus 2010, semoga tahun ini ramadhan kita yang terbaik”, demikian bunyi sms yang saya terima dari mas Pandji Prawisuda, senior saya di Tokyo Institute of Technology yang memberitahukan tentang awal puasa Ramadhan di Jepang berdasarkan hasil sidang isbat Islamic Center Japan. Continue reading

Sharing Pengalaman Studi di Jepang (12): Riset


Deru suara mesin-mesin canggih dan alat pengatur kelembapan ruang tak henti memainkan melodi monoton di ruangan itu, satu jam dua jam tiga jam suara itu masih tetaplah sumbang. Selama itu pula badankupun terbalut pakaian super aneh, seakan seperti gabungan antara pakaian ninja dan antariksawan. Selama itu pula tangan ini harus secara cermat memainkan panel kendali mesin-mesin canggih seharga milyaran rupiah di ruangan itu, tak boleh meregangkan konsentrasi.  

Tidak terasa rutinitas ini sudah menjadi kebiasaan saya, setiap kali harus berjibaku dengan eksperimen di laboratorium saya. Tidak setiap hari sih, dan tidak selalu di ruangan yang sama, karena untuk proses produksi sebuah chip memerlukan beberapa tahapan, dengan menggunakan mesin yang berbeda-beda dan kadang harus singgah di laboratorium lain jika dirasa memerlukan peralatan tertentu yang tidak ada di laboratorium saya. Continue reading

Sharing Pengalaman Studi di Jepang (11): Ski


Lautan salju membentang sepanjang batas mata memandang menyelimuti setiap lekuk morfologi tanah di tempat itu. Perpaduannya dengan latar pegunungan di belakangnya menghasilkan setiap bentangnya ibarat lukisan empat dimensi yang sangat-sangat  indah.

Rasa cemas membayang ketika jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam padahal kereta listrik yang aku tumpangi menuju Tokyo Eki (stasiun Tokyo) masih berada beberapa stasiun dari lokasi tujuan. Rinkai line begitulah nama jalur yang saya gunakan untuk menuju stasiun Tokyo setelah sebelumnya transfer di stasiun Oimachi. Continue reading

Sharing Pengalaman Studi di Jepang (10): Pesta Kecil di Penghujung Tahun


Pesta demi pesta memang biasa mengiringi hari-hari gersang kehidupan garang di laboratorium selama saya tinggal di Jepang, biasanya teman-teman satu laboratorium berkumpul merayakan setiap ada even yang bisa dirayakan. Intinya hal sekecil apapun jika bisa diadakan pesta tentu akan diadakan pesta 🙂 . Saya dengan segala alasan agama dan juga alasan finansial tentunya he he mencoba menghindar dari segala pesta-pesta ini, karena menu yang disajikan umumnya tidak bisa saya makan, dan umumnya berujung pada acara minum sake. Pernah saking mabuknya teman di laboratorium  menyapa saya menggunakan kata assalamualaikum untuk mengakrabkan diri, sebetulnya terkejut senang tapi kemudian saya ralat rasa senang itu karena dia sedang mabuk. Tapi ya gak apalah daripada tidak sama sekali 🙂 Continue reading

Sharing Pengalaman Studi di Jepang (9): Homestay


Ruangan itu mewah dengan tata kelola yang cantik dan perabotan-perabotan mahal yang memperindah suasananya, tapi sungguh yang lebih membuat suasana jauh lebih indah di ruangan itu adalah adanya suasana hangat nuansa khas keluarga yang menyelimutinya. Seketika aliran waktu membawaku ke sebuah mansion mewah dengan hidangan sushii terhidang di meja, ada mama, papa, dan adik di sana. Mama Yuka sangat cantik dengan ketelatenan tingkat tinggi dalam mengurus rumah tangga, tipikal wanita jepang yang terkenal telaten. Papa Noriyuki tampan dan gagah, sudah 18 tahun lebih bekerja di empat perusahaan yang berbeda, pekerja keras tapi ramah. Adik Haruki-chan lucu dan  cerdas, dia masih berusia 3 tahun tapi sudah mampu membaca tulisan jepang maupun tulisan inggris, bahkan dia bisa menghafal beberapa kata dalam bahasa Indonesia :) , dia juga mampu menghafal semua jenis kereta api, jika dibandingkan dengan anak sebayanya haru kun (demikian biasa saya memanggil haruki chan) adalah anak yang jenius.  Continue reading

Sharing Pengalaman Studi di Jepang (8): Kenangan Empat Musim


Hari ini tepat setahun yang lalu pesawat Japan Airlines dengan nomor penerbangan JL-726 yang menerbangkanku dari bandara Soekarno Hatta Jakarta itu mendarat gagah di bandara terbesar dan termegah seantero negeri ini, Narita Airport. Hari itu segala angan dan mimpi bertemu dengan dunia nyata, meletupkan kekaguman dan rasa tidak percaya. Hari itu seakan aku adalah salah satu pemeran dalam film “back to the future” atau film “time machine” yang melesatkan seting ruang dan waktuku meloncat dua jam lebih cepat dari waktu semula begitu menginjakkan kaki di negeri sarat teknologi ini. Hari itu tiba-tiba seakan-akan identitasku berubah menjadi allien alias makluk asing, dengan bahasa yang asing, dan wajah yang tampak asing bagi orang-orang di sekelilingku. Hari yang menurutku penting untuk dikenang, karena hari itulah segala kisah petualanganku di Jepang dimulai. Continue reading

Sharing Pengalaman Studi di Jepang (7): Lebaran di Tokyo


” Allahu akbar – allahu akbar – Allahu akbar, Lailaa Haillallahu Allahu Akbar, Allahuakbar wallillahilham”, takbir berkumandang, jemaah berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru menyesaki ruang-ruang kosong yang sudah disediakan. “Mas silahkan bagi jemaah laki-laki ke arah sini, masih ada ruang tersisa kok di koridor” sapa seorang panitia dengan ramahnya, sambil menyodorkan plastik untuk membungkus sepatu atau sandal yang dibawa. Pagi ini bangunan tersebut seakan tidak mampu menampung luapan jemaah sholat yang membludak, sehingga ruangan koridorpun menjadi terlalu berharga untuk tidak dipakai sebagai tempat sholat. Kali ini saya memang tidak sedang bermimpi, tapi itulah yang terjadi di sebuah bangunan lantai tiga bercat putih dengan lambang garuda gagah berwarna keemasan, yang di bawahnya bertuliskan dua kata yang juga berwarna keemasan “Balai Indonesia”. Bangunan yang tidak lain bernama Sekolah Republik Indonesia Tokyo atau biasa disingkat dengan SRIT. Continue reading

Sharing Pengalaman Studi di Jepang (6): Pemilu


Mungkin tidak salah mengatakan bila satu hal yang paling hangat diperbincangkan beberapa bulan ini di berbagai media tanah air baik media cetak maupun media elektronik adalah adanya pesta demokrasi terbesar di tanah air, sebuah pesta demokrasi yang akan menentukan nasib bangsa Indonesia. Pemilu sesuai fungsinya adalah bagian dari wujud partisipasi warga negara dalam turut serta menentukan arah pembangunan bangsa dengan memilih pemimpin bangsa yang diinginkannya.  Hmm… Tahun 2009 ini adalah untuk kedua kalinya dalam hidup saya, saya turut menyemarakkan pesta demokrasi terbesar di Indonesia dengan memanfaatkan hak suara saya sebagai warga negara Indonesia, untuk  memilih pemimpin bangsa 5 tahun ke depan. Continue reading

Sharing Pengalaman Studi di Jepang (5): Makananku


Adalah suatu hal yang menyenangkan bila di suatu tempat di negeri seberang lautan, di zona waktu yang berbeda, disaat hati mulai rindu akan nuansa kuliner tanah air yang mempesona, kita bisa mencicipi makanan favorit kita. Setiap kunyahan akan terasa seperti sesuatu yang tak ternilai dan akan terlontar kata mak nyuss…. mak blegender… dengan tulus ikhlas 🙂 . Persoalan makanan mungkin akan jadi masalah siapapun jika tinggal di lingkungan yang baru, tidak harus tinggal di negara lain, tinggal di kota yang berbeda yang hanya berjarak beberapa puluh kilometer saja manakala olahan kulinernya berbeda dengan olahan kuliner di kota asal kita mungkin akan sulit membuat kita kerasan. Bagaimana dengan mereka yang hidup di luar negeri? tentu saja rasa itu lebih dahsyat, karena tidak setiapwaktu kita bisa melepas rindu akan lezatnya kuliner tanah air. Bahkan mungkin di beberapa daerah dimana sulit menemukan rekan senegara tinggal di wilayah yang sama, menikmati kelezatan kuliner tanah air hanyalahsebuah mimpi yang tak berwujud. Continue reading