Perjalanan Menggapai Puncak Gunung Fuji


Fuji yang dari kejauhan menyiratkan keindahan panorama. Fuji yang dari kejauhan adalah hampir selalu jadi obyek dari foto dan lukisan spektakuler. Fuji yang adalah seakan simbol keindahan, puncak tertinggi dari segala puncak di negeri matahari terbit ini, akan tampak wajah aslinya jika kita menyentuhnya.

well, perjalanan menggapai puncak gunung fuji ini sebenarnya sudah saya lakukan hampir tiga tahun yang lalu, tepat di puncak musim panas tahun 2009 di bulan Agustus. Biar bagaimanapun perjalanan tersebut adalah kisah yang tetap akan saya kenang selamanya, karena walaupun pengalaman tersebut seru tapi mungkin saya tidak akan ingin mengulanginya lagi :). Gunung Fuji (富士山 Fuji-san]) adalah gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (timur), Fuji-Yoshida(utara) dan Fujinomiya (barat daya). Gunung setinggi 3.776 m ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji. Gunung ini diperkirakan terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sebuah gunung berapi yang kini masih aktif walaupun memiliki kemungkinan letusan yang rendah, Fuji terakhir kali meletus pada tahun 1707. Terdapat lima danau di sekeliling Fuji, yaitu Danau Kawaguchi, Danau Yamanaka, Danau Sai, Danau Motosu dan Danau Shoji. demikian wikipedia menggambarkan tentang gunung ini.

Gunung Fuji termasuk golongan gunung wisata, ada sekitar 200.000 orang mendaki Gunung Fuji setiap tahunnya, dan 30% di antaranya orang asing. Orang jepang sendiri pergi ke sana ada beberapa tujuan, ada yang sekedar rekreasi, ada juga yang memang ingin beribadah. Masa pendakian gunung fuji hanya dibuka di musim panas, sekitar bulan Juli sampai pertengahan september, karena selain periode tersebut puncak fuji selalu diselimuti salju sehingga berbahaya untuk didaki. Jika di puncak musim panas saja suhu di puncak fuji hampir mendekati nol, maka di musim dingin suhu terdingin yang tercatat sekitar -38 derajat c.

Saya melakukan pendakian bersama teman-teman PMIJ, kebetulan kami semua berdomisili di area kanto  sehingga cukup dekat untuk pergi ke gunung fuji. Perjalanan di mulai pukul 5 sore, dari shinjuku tokyo dengan menyewa bis, berhubung kami pergi berombongan. Untuk sewa bis pergi-pulang setiap orang harus membayar 5000 yen (sekitar Rp 510 ribu). Mempertimbangkan kondisi, suhu dan cuaca yang setiap saat bisa berubah, ada beberapa perlengkapan yang harus dibawa untuk pendakian, yaitu jaket musim dingin, jas hujan, head lamp, sarung tangan, sepatu kets, uang (tentu saja :)), air 1 liter, nasi kepal untuk sarapan pagi, roti untuk makan di perjalanan menuju puncak, semuanya dibawa dalam tas ransel. Kami berencana untuk bisa melihat sunrise dari puncak Fuji, sehingga pendakian dilakukan di malam hari.

Sekitar pukul 8 malam bus kami sudah berada di pos pendakian kelima, di Gogome. Kalau tidak salah ingat ada 12 pos pendakian sampai ke puncak. Jalur pendakian melalui pos pendakian kelima adalah jalur pendakian terpopuler dan termasuk yang paling mudah di antara jalur lain. Berada di ketinggian 2400 meter dari permukaan laut, ada terminal bus, parkir mobil, toko dan restoran di pos pendakian ini. Jadi kami hanya perlu mendaki sekitar 1300 meter lagi, sepertinya mudah :). Tapi ternyata jarak itu adalah ketinggian jika diukur secara vertikal, jika dihitung melalui jalur pendakian perkiraan sekitar 10 km :D. Suhu udara di gogome waktu itu sekitar 20 derajat c, sehingga saya hanya memakai kaos dan rompi. Sayangnya waktu itu masih belum punya kamera DSLR, sehingga kualitas fotonya masih buruk hehe, jadi sebagian foto saya ambil dari album foto mas Baharuddin Maghfuri alias Bahar.

Setelah briefing singkat oleh ketua panitia, kamipun dibagi menjadi tiga rombongan. rombongan pertama adalah kelompok yang ditargetnya sampai di puncak fuji dalam 7 jam, kelompok kedua 8 jam, dan kelompok ke tiga terdiri dari mbak mbak 9 jam tapi tidak harus sampai puncak. Saya masuk kelompok pertama yaitu sampai di puncak dalam 7 jam. Perjalanan dari gogome ke pos pendakian 6 relatif datar pada awalnya, kadang hal ini mengecoh para pendaki pemula seperti saya, dengan berjalan terlalu cepat. Hal ini tentu tidak baik, karena tenaga akan terforsir di awal, dan nafas akan terasa berat begitu kita naik di sudut yang lebih curam. benar juga, setelah sekitar 500 meter, jalan mulai menanjak agak curam dengan kemiringan sekitar 40 derajat. dalam perjalanan kami sempatkan berfoto bersama.

kamipun sampai di pos 6 sejam kemudian. wew capek… seperti di pos-pos pendakian lain di gunung fuji, selalu ada restoran dan toko, di pos ini juga ada, ada juga toko yang melayani jasa stempel ketinggian. pendaki yang membawa tongkat menyetempel tongkatnya di toko tersebut untuk bukti telah mencapai ketinggian tertentu. Saya kurang tahu persis tarif untuk jasa tersebut, kalau tidak salah 300 yen. di pos ini juga tersedia toilet umum berbayar, karena berada di ketinggian maka tidak ada air untuk menyiram toilet, sebagai gantinya digunakan semacam busa, jadi jangan tanya baunya :).

kami hanya beristirahat sekitar 5 menit di pos ini, hanya sekedar duduk melepas lelah yang tidak bisa lepas. perjalanan berikutnya ke pos 7 dan 8 semakin berat. Jalur semakin curam dan sempit sementara orang ramai. ada beberapa kali kami harus menaiki tangga, lho kok ada tangga :). Di samping itu juga melompati tangga-tangga alami dari bebatuan-bebatuan besar sepanjang perjalanan, yang jumlah banyak sekali. jika melihat ke arah atas, ada kerlap kerlip lampu di kejauhan tanda pos berikutnya, sepertinya tidak terlalu jauh, tapi ternyata butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke sana. hampir sekitar tengah malam kami sampai di pos pendakian 8, dan sayapun merasa sangat capek, tapi perjalanan harus tetap lanjut. Di saat hampir menyerah, eh ada anak kecil sekitar 10 tahun yang baru datang bersama orangtuanya, dekita ! katanya riang pada kedua orangtuanya. Melihat kejadian itu, api semangat saya kembali berkobar hehe

Perjalanan menuju pos 9 benar-benar semakin berat, kali ini bukan bebatuan lagi yang ada di sepanjang perjalanan, tapi pasir gunung. Saya meneruskan langkah dengan setengah menyeret kaki karena capek, nafas juga semakin pendek karena pengaruh ketinggian. selangkah demi selangkah keep moving forward. dengan kemiringan sekitar 45 derajat, dan jalan berpasir, rasanya perjalanan terasa sangat berat. beruntung waktu itu cuaca bagus dan tidak turun hujan. Melangkah dan terus melangkah walau pelan-pelan. Yang ada di pikiran saya waktu itu adalah cita-cita untuk sampai di puncak Fuji, sehingga kaki ini tetap melangkah. Saya ibaratkan perjalanan menuju puncak tersebut adalah perjalanan menuju cita-cita hidup, dengan filosofi yang sama saya gunakan untuk menyemangati diri. Sampai di pos 9 kaki sudah sangat capek, masih ada 3 pos lagi yang harus dilewati. waktu sudah beranjak ke pukul 2 dinihari, kami beristirahat agak lama dibanding pos-pos sebelumnya, pos ini lumayan besar, ada restoran dan penginapan. kami memakan bekal roti yang kami bawa untuk menambah tenaga. sekitar 15 menit kemudian kami melanjutkan lagi pendakian, istirahat tidak boleh terlalu lama, karena dikhawatirkan otot kita terlanjur dingin, sehingga tambah lemas kata ketua rombongan. Suhu semakin dingin sekitar 10 derajat c. hampir pukul 4 pagi, kami sampai di pos pendakian 10. ternyata suhu sudah sangat dingin sekitar 5 derajat c dan angin berhembus kencang. kami beristirahat agak lama sekitar 30 menit sambil sholat shubuh. Jika diteruskan mendaki, kemungkinan kami akan kedinginan di puncak. Tapi permasalahannya matahari terbit sekitar 4 lebih 15 menit, momen yang sangat ditunggu. ada sedikit perdebatan anggota rombongan kami, akhirnya ada rombongan yang berangkat duluan untuk mengejar sunrise.

Demi kenyaman, akhirnya kami meralakan untuk tidak menikmati sunrise dari puncak, dalam perjalanan menuju pos 11, kami berhenti untuk menikmati matahari terbit. hampir semua orang berhenti untuk melihat momen matahari terbit tersebut. Kami berhenti cukup lama sampai matahari beranjak lebih tinggi.

setelah cukup puas mengambil foto-foto sunrise, kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Semakin mendekat puncak, semakin terlihat padat merayap para pendaki. kami hanya bisa berjalan perlahan, melewati bebatuan yang curam dengan sudut sekitar 60 derajat. baru sekitar pukul 7 pagi kami sampai di puncak. angin berhembus kencang, sangat dingin dengan suhu sekitar 6 derajat c, tetapi sensasi di kulit sekitar 3 derajat c. beberapa kali saya minta difoto teman2, yang tampak di muka saya ekspresi kedinginan, jadi kurang keren untuk ditampilkan 🙂

Karena dingin, kami memutuskan untuk cepat-cepat turun lagi ke pos pendakian 5. tidak  semudah yang dibayangkan, karena saya harus melewati rute menurun curam dengan sudut kecuraman 40 hingga 50 derajat. kaki ini benar-benar lunglai begitu sampai di pos pendakian 5 sekitar 5 jam kemudian 🙂

* sebagian foto diambil dari jepretan bahar: twitter@baharimasu

Advertisements

2 comments on “Perjalanan Menggapai Puncak Gunung Fuji

  1. Pingback: Tempat rekreasi dan hiburan di sekitar kota tokyo | Mokh. Sholihul Hadi

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s