Sharing Pengalaman Studi di Jepang (12): Riset


Deru suara mesin-mesin canggih dan alat pengatur kelembapan ruang tak henti memainkan melodi monoton di ruangan itu, satu jam dua jam tiga jam suara itu masih tetaplah sumbang. Selama itu pula badankupun terbalut pakaian super aneh, seakan seperti gabungan antara pakaian ninja dan antariksawan. Selama itu pula tangan ini harus secara cermat memainkan panel kendali mesin-mesin canggih seharga milyaran rupiah di ruangan itu, tak boleh meregangkan konsentrasi.  

Tidak terasa rutinitas ini sudah menjadi kebiasaan saya, setiap kali harus berjibaku dengan eksperimen di laboratorium saya. Tidak setiap hari sih, dan tidak selalu di ruangan yang sama, karena untuk proses produksi sebuah chip memerlukan beberapa tahapan, dengan menggunakan mesin yang berbeda-beda dan kadang harus singgah di laboratorium lain jika dirasa memerlukan peralatan tertentu yang tidak ada di laboratorium saya. Selama ini selain melakukan experimen di lab saya, saya juga melakukan experimen di 4 lab lain dan berkolaborasi dengan 3 profesor (yang dua adalah pembimbing saya sedang satunya lagi adalah ahli magnetic material dari jurusan lain di fakultas saya). Karena proses pembelajaran tersebut saya menjadi lumayan tahu bahwa jalan untuk menjadi ilmuwan-ilmuwan top dunia seperti para pembimbing saya sangatlah tidak mudah. Pembimbing saya, Professor Sugii, bercerita bahwa beliaupun juga melakukan hal yang sama saat mahasiswa dulu hingga sekarang saat bekerja di Hitachi.  Proses yang berat bukan pada saat experimen, tapi pada tahapan analisa data, seandainya data yang diperoleh kurang memuaskan maka harus dianalisa lagi, kemudian experimen lagi dan analisa lagi, hingga data benar2 sesuai dan tidak melenceng jauh dari perhitungan teori. Secara hampir rutin tiap hari (senin sampai minggu) beberapa anggota lab yang sama dengan saya menghabiskan waktu belasan jam perhari untuk bereksperimen, belajar dan mengkaji hasil penelitiannya, umumnya mereka sudah ada di lab jam 10 atau 11 pagi, dan baru pulang ke apartemennya pada jam kereta terakhir (12 malam). Saya sendiri hanya sanggup maksimal 5 hari dalam seminggu dan 10 jam di lab :) , jika lebih dari itu pasti saya tepar 😦  Berikut beberapa foto narsis saya ketika sedang experimen di lab. :mrgreen:

 Kalau boleh menyebut hari yang paling di benci dalam seminggu, mungkin saya akan menyebut hari rabu, karena setiap hari itu semua anggota lab. harus melaporkan perkembangan risetnya di hadapan anggota lab lain dan profesor-profesor yang tergabung di grup lab. saya. Kebetulan di lab saya ada 34 mahasiswa dan 9 profesor, jadi bisa dibayangkan bagaimana groginya kita dalam mempersiapkan bahan presentasi dan data penelitian. Walau tergabung di Internasional Graduate Program, sayapun harus presentasi dalam bahasa Jepang, pada saat presentasi riset dan diskusi/tanya jawab dengan profesor saya seusai presentasi. Khusus untuk presentasi saya menggunakan 100 persen bahasa Jepang, tetapi untuk sesi diskusi kadang saya campur dengan bahasa Inggris karena kadang sulit menjelaskan sesuatu yang detil dalam bahasa Jepang, dengan bahasa jepang saya yang masih pas-pasan. Sesi presentasi riset terasa sangat menyenangkan ketika penelitian kita minggu itu mendapat progress yang bagus, dan terasa tidak menyenangkan jika sebaliknya. Secara umum boleh dibilang, profesor (sensei) saya sangat ramah dalam memberi masukan riset kita, tetapi karena itu pula kita jadi merasa sungkan jika tidak menunjukkan hasil/progress yang baik dalam riset ketika presentasi. Suatu nilai yang sangat baik sebetulnya.

BERSAMBUNG

Advertisements

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s