Yang Muda yang Sudah Berkilau


Selalu menyenangkan melihat orang-orang yang masih berusia sangat muda tapi mampu melakukan sesuatu yang biasanya hanya diraih oleh orang-orang yang sudah tua. Agak sedikit melenceng dari tema blog ini, tapi mudah-mudahan artikel ini bisa memberi semangat teman-teman untuk berprestasi yang tidak biasa-biasa saja. Saya kutip dari berbagai sumber tentang mereka-mereka yang mampu memecahkan rekor termuda dalam jenjang akademik dan karir akademik. Mereka meraih prestasi akademis dan menduduki posisi top di kampus pada usia yang masih sangat muda.

Mungkin sobat-sobat pernah mendengar tentang Alia Sabur asal Northport, New York. Dialah profesor termuda di dunia (mungkin yang dimaksud adalah Assistant Profesor). Usianya baru 19 tahun, namun wanita ini telah mencetak rekor dunia sebagai profesor paling muda dalam sejarah. Bagaimanapun juga, saya menilai wanita satu ini memang luar biasa. Untuk menjadi dosen di Amerika minimal harus memiliki ijazah doktor, dan dia sudah meraihnya pada saat mayoritas orang-orang seusianya di dunia (termasuk saya) baru mulai masuk semester 3 kuliah s1. Dia mulai bicara dan membaca ketika masih berumur 8 bulan! Alia menyelesaikan pendidikan SD pada usia 5 tahun. Dia kemudian masuk kuliah pada umur 10 tahun. Dan pasa umur 14 tahun, Alia meraih gelar sarjana sains dalam bidang matematika aplikasi dari Universitas Stony Brook, wanita paling muda dalam sejarah AS yang berhasil melakukannya. Pendidikan Alia berlanjut ke Universitas Drexel dan meraih gelar M.S. dan Ph.D. dalam sains dan engineering.
“Saya benar-benar senang mengajar,” kata Alia seperti dilansir MSNBC, Sabtu (26/4/2008). “Ini hal di mana Anda bisa membuat perberdaan. Ini bukan cuma apa yang bisa Anda lakukan, tapi Anda bisa membuat banyak orang menjadi berbeda,” imbuh wanita muda itu. Dikatakan Alia, yang ingin dilakukannya hanyalah membagi semua yang telah dipelajarinya. “Saya merasa saya bisa membantu banyak orang,” tuturnya. Selain prestasi akademiknya yang mengagumkan, Alia juga merupakan pemain musik dan pemegang sabuk hitam olahraga bela diri taekwondo.

Menengok ke dalam negeri, beberapa prestasi yang terekam oleh media cetak di tanah air dapat dilihat berikut (saya kutip dari tempo interaktif dot com).

Diam-diam, sejumlah anak muda menatah sejarah cukup membanggakan di ranah akademis. Mereka yang usianya rata-rata masih berkepala tiga–menduduki posisi cukup prestisius di sebuah universitas: dari dekan hingga rektor.

Masih lekat dalam ingatan kita ketika Anies Baswedan tampil sebagai rektor termuda. Anies terpilih menjadi orang nomor satu di Universitas Paramadina, Jakarta, ketika usianya baru menginjak 38 tahun. Pada 2008, Anies pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 100 tokoh intelektual dunia oleh jurnal Foreign Policy di Washington, Amerika Serikat. Dan tahun ini doktor ilmu politik ini juga terpilih sebagai salah satu tokoh muda Indonesia yang menyabet Young Global Leader Honorees 2009.

Sosok muda lain yang berkilau adalah Firmanzah, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saat terpilih sebagai dekan, usianya juga terbilang masih belia: 32 tahun. Dia menyisihkan tujuh seniornya dalam pemilihan dekan pada awal tahun ini. Dan Firmanzah menjadi dekan termuda sepanjang sejarah Universitas Indonesia.

Di Surabaya, Jawa Timur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengukuhkan guru besar termuda: Gamantyo Hendrantoro. Ketika dikukuhkan sebagai profesor ke-72 perguruan tinggi tersebut, Gamantyo baru menginjak 37 tahun.

Publik pun dibikin kagum tatkala seorang remaja lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Riana Helmi–begitu nama sang remaja–meraih gelar sarjana kedokteran ketika usianya baru 17 tahun. Bisa dibilang dia adalah dokter termuda Indonesia.

Selain di dalam negeri, pemuda kita berkilau di sejumlah kampus di negeri orang. Nelson Tansu, misalnya, yang menjadi dosen di University of Lehigh, Amerika Serikat. Saat diangkat menjadi profesor pada 2004, usia Nelson baru 26 tahun. Pada saat itu dia masih menjabat sebagai Assistant Professor, dia memperoleh gelar Full Professor di Usia belum genap 32 tahun, tetap luar biasa.

Lalu, di Inggris, pemuda kita juga tercatat sebagai profesor termuda. Hadi Susanto, begitu nama anak muda itu, meraih gelar doktor matematika di Universitas Twente, Belanda, ketika usianya baru menginjak 27 tahun. Hadi lalu terbang ke Nottingham, Inggris, dan mengajar di sebuah universitas di kota tersebut.

Berikut ini liputannya oleh Tempo, yang mencoba memotret sejumlah sosok muda kita yang berkilau di dunia akademis.  *****

Rabu sore lalu, di ruang kerjanya, Firmanzah tampak masih sibuk berkutat dengan rutinitas kantornya. “Sebenarnya aku agak kurang enak badan,” kata dekan termuda di lingkungan Universitas Indonesia itu. Sejak terpilih sebagai Dekan Fakultas Ekonomi UI, kesibukan Fiz panggilan akrab pria 32 tahun ini–bisa dibilang kian menggunung. Pekan sebelumnya, dia bersama beberapa anggota stafnya diundang pemerintah daerah Batam untuk meninjau kondisi perekonomian di sana. Kembali ke Jakarta, segunung aktivitas menghadang pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 7 Juli 1976, ini. Rabu itu, misalnya, sejak pagi acaranya padat: dari rapat dengan jajaran rektorat, menghadiri peresmian nama jalan di lingkungan kampus, membuka acara seminar fakultas, hingga bertemu dengan lembaga donor. Fiz ikut kandidat bursa calon dekan pada awal 2009. Pria yang meraih gelar doktor dari University of Pau et Pays de I’Adour, Prancis, pada usia 28 tahun ini bersaing dengan tujuh calon lainnya. Dan suami Ratna Indraswari ini tercatat sebagai kandidat termuda.

Dalam proses seleksi, Fiz menawarkan visi dan misi akan membawa UI bersaing dengan universitas-universitas di luar negeri. Visi dan misinya itu berhasil memikatcivitas academica UI. Ranking-nya selalu berada di posisi teratas, baik dalampolling angket maupun penilaian panitia dekanat serta rektorat. Dia pun terpilih sebagai dekan menyisihkan para senior-seniornya.

Kini wisudawan teladan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi UI 1998 ini membawahkan 6.000 mahasiswa, 350 dosen tetap, dan 750 dosen tidak tetap. Fiz menyatakan, menjadi pemimpin di antara orang-orang yang lebih tua dan bahkan ada yang pernah menjadi dosennya sempat membuat dia canggung. Tapi itu tak berlangsung lama. “Semua hubungannya lebih kepada kerja profesional.”

Yang pasti, Fiz menambahkan, hampir tak ada yang berubah pada dirinya sejak menjadi orang nomor satu di Fakultas Ekonomi UI. “Ya, paling-paling sekarang waktu untuk keluarga agak berkurang,” ujarnya.

*****

Penampilan Gamantyo Hendrantoro tak mencerminkan statusnya sebagai guru besar atawa profesor. Matanya tak berkacamata minus tebal. Rambutnya pun masih hitam dan cukup tebal, tak ada kebotakan layaknya profesor kebanyakan. Begitu pula raut wajahnya: masih tampak sangat muda. Ya, Gamantyo Hendrantoro memang satu di antara sedikit profesor termuda di negeri ini. Pada usia 37 tahun, dia dikukuhkan sebagai guru besar termuda di almamaternya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur.

Menjabat guru besar di usia yang relatif muda sebenarnya bukanlah hal luar biasa jika dilihat dari karier sekolahnya. Apalagi sejak kanak-kanak, pria kelahiran, Jombang, Jawa Timur, 11 November 1970, ini selalu berprinsip, kalau bisa cepat, kenapa harus diperlambat. SD hingga SMA dia selesaikan lebih cepat daripada siswa kebanyakan. SD dia lalui selama lima tahun. Lalu, SMP dan SMA masing-masing hanya dia lalui dua setengah tahun. Sehingga di usianya yang ke-17, dia sudah bisa kuliah melalui program PMDK di Fakultas Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Gamantyo sebenarnya bukan tergolong mahasiswa yang lulus cepat. Dia menempuh kuliahnya selama lima tahun. Hanya, gara-gara indeks prestasi kumulatifnya mencapai 3,36, dia kemudian diangkat sebagai dosen di almamaternya. Dari sinilah berbagai makalah dan penemuan–yang kelak menjadi credit point sebagai profesor mulai dikumpulkan. Pada 1995, dia dipercaya ITS untuk melanjutkan studi ke Kanada. Tepatnya di Carleton University, yang berada di Kota Ottawa. Di kampus itu dia mengambil program master sekaligus jenjang doktoral hingga akhirnya lulus pada 2001. “Saat itu saya tidak langsung pulang, tapi bertahan di Kanada satu tahun,” katanya. Saat di Kanada pulalah Gamantyo berhasil mengumpulkan tiga penelitian dan makalah, yang dimuat di jurnal internasional. Itulah yang membantu dia mendapatkan gelar profesor lebih cepat.

Gamantyo memang dikenal pekerja keras. Musik rock progresif yang digandrunginya ikut memompa semangat dalam aktivitasnya. “Meski tidak ada hubungannya, musik mampu memberikan tambahan semangat,” ujar sang profesor, yang kini tengah mengerjakan tiga penelitian cukup besar.

*****

Sebuah prestasi memukau terukir pada pertengahan Mei lalu. Seorang remaja berhasil meraih gelar sarjana kedokteran pada usia 17 tahun. Riana Helmi–demikian remaja kelahiran Banda Aceh, 22 Maret 1991, yang mengagumkan itu dinobatkan sebagai sarjana kedokteran termuda di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan indeks prestasi kumulatif 3,67.

Toh, atas prestasinya itu Riana tak terlampau terkejut. Dikatakannya, semua itu ada prosesnya. Jadi tidak ujug-ujug menjadi sarjana kedokteran termuda. “Prosesnya sebetulnya wajar. Sebab, dari awalnya kan juga sudah cepet,” kata Riana saat ditemuiTempo di rumah kosnya di bilangan Sendowo, Yogyakarta, pekan lalu.

Saat berusia empat tahun, Riana sudah masuk sekolah dasar. Dalam usia itu pula, putri pertama pasangan Helmi Rofiah ini telah pandai membaca dan menulis. Saat SMP dan SMA, dia masuk program akselerasi atawa percepatan. Masing-masing dia selesaikan dalam waktu dua tahun. Lantas, selama kuliah, dia juga mengaku tak banyak menemui kesulitan.

Menurut Riana, faktor usia yang lebih muda dari teman-teman kuliah tak menjadi kendalanya untuk beradaptasi. Dalam pergaulan teman-temannya pun tak ada yang memperlakukan dia secara khusus. Justru tugas dan beban kuliahlah yang sering membuatnya tak tenang. “Kedokteran itu kan bukunya tebal-tebal dan tugasnya banyak,” tuturnya.

Saat ini gadis yang waktu kecil takut boneka ini telah melakukan koas magang praktek sebelum disumpah sebagai dokter di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta, serta beberapa rumah sakit daerah, seperti Banyumas, Klaten, Cilacap, Sleman, Wonosari, dan Bantul.

Yang jelas, meski masih belia, Riana tak menemui hambatan selama menjalani koas. Menurut dia, selama dia berpraktek, tak ada komplain atau keraguan dari pasien karena dokternya terlalu muda.

*****

Prestasi akademis cukup hebat juga datang dari Pulau Dewata, Bali. Pengukir prestasi itu adalah Shri I Gusti Ngurah Arya Vedakarna, yang meraih gelar doktor ilmu pemerintahan dalam usia 27 tahun. Atas prestasinya tersebut, namanya tercatat dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia.

Arya–panggilan pria kelahiran 23 Agustus 1980 itu–kini tinggal menyelesaikan empat penelitian lagi untuk dikukuhkan sebagai guru besar. Di tempatnya mengajar, Universitas Mahendradatta, Bali, dia juga telah diusulkan menjadi rektor oleh senat universitas. “Jika tidak ada halangan, tahun depan akan menjadi rektor,” katanya.

Saat SMA, Arya mengaku tak suka bidang studi eksakta, sehingga akhirnya dia memilih jurusan sosial–meski saat itu dipandang sebelah mata. Arya melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti, Jakarta. Dia meraih sarjana ekonomi bidang transportasi udara pada usia 21 tahun.

Kuliah S-2 dan S-3-nya ditempuh di Universitas Satyagama, Jakarta, dengan mengambil Jurusan Ilmu Pemerintahan. Pria yang aktif di pelbagai lembaga sosial kemasyarakatan ini menulis tesis dan disertasinya tentang desa adat.

Ketika mengambil program doktor, teman-teman kuliah Arya rata-rata berusia jauh di atasnya. Ada asisten menteri, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dan pejabat pemerintah lainnya. Toh, dia tak minder. “Hubungan kami lebih seperti bapak dengan anak atau kakek dengan cucunya,” ujar Arya mengenang.

******

Nama Hadi Susanto bisa dibilang tak pernah terdengar di dalam negeri. Namun, di luar negeri, pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 27 Januari 1979, itu dikenal sebagai doktor dan dosen matematika termuda. Hadi seakan membuktikan kepada dunia bahwa putra-putra Indonesia mampu bersaing di kancah internasional. Pada usianya yang baru 27 tahun, dia meraih gelar doktor matematika dari Universiteit Twente, Belanda, dan kini mengajar di Nottingham, Inggris.

Hadi tercatat sebagai dosen termuda di tempatnya mengajar saat ini, meski dia sendiri tak berani mengklaimnya. Sebab, ada dua koleganya dari Inggris dan Italia yang mungkin seumuran dengannya. “Saya kurang tahu kapan tepatnya mereka lahir,” katanya melalui surat elektronik.

Menurut Hadi, menjadi dosen muda di luar negeri sebetulnya merupakan sesuatu yang biasa karena umumnya proses regenerasinya berjalan bagus. Dalam hitungan tahun, selalu muncul dosen-dosen yang lebih muda. Proses seleksinya pun standar. Jurusan membuka lowongan yang diumumkan secara internasional melalui Internet. Seleksi dilakukan oleh panitia dengan melihat berkas pelamar. Biasanya, dari ratusan pelamar, hanya 5 sampai 6 yang diambil.

Proses selanjutnya, mereka yang lolos seleksi administratif akan diundang wawancara dengan pihak universitas terkait. Wawancara ada dua sesi, presentasi ilmiah tentang riset, dan berbagai hal. “Bisa riset, pengajaran, atau rencana masa depan,” kata pria yang gemar menulis cerpen untuk mengisi waktu luang ini.

Sepanjang mengajar di negeri orang, Hadi mengaku sempat canggung. Beberapa mahasiswa yang dia bimbing berusia jauh di atasnya. Namun, lama-lama menjadi terbiasa karena dia lebih profesional dalam memposisikan diri sebagai dosen. Hadi menyatakan bekerja sebagai dosen, di mana pun negaranya, pendapatannya selalu lebih rendah dibanding gaji seseorang yang bekerja di bidang industri. Yang membedakan dengan keadaan di Indonesia adalah gaji dosen di luar negeri sudah di atas standar kecukupan. (demikian kutipan dari tempo interaktif dot com)

************************

Memang selalu menyenangkan bisa berprestasi dan mencapai posisi puncak di usia muda, karena itu artinya mereka mempunyai masa efektif pengabdian yang lebih panjang di kondisi puncaknya. Di saat orang-orang seusianya masih mencari jati diri, mereka sudah meraih jati diri tersebut dan bersiap menggapai mimpi yang lain. Dan segala kisahnya yang terekam oleh pena akan menjadi inspirasi bagi orang lain. Penulis sendiri meraih jenjang lektor kepala (Associate Professor) di usia 26 tahun, juga sempat dipublikasikan di koran lokal anak cabang jawapos, katanya juga menginspirasi pembaca-pembaca di sana (cuit cuit he he). Mudah-mudahan bisa meraih jenjang tertinggi di usia yang masih sangat muda, amin :) . Sekarang bagaimana dengan anda? pastikan anda berprestasi di bidang anda masing-masing di usia yang masih sangat muda. Tidak ada prestasi luar biasa jika usahanya hanya biasa-biasa sajaTidak perlu harus tua untuk meraih prestasi yang umumnya hanya bisa diraih oleh orang-orang yang sudah tua.

Advertisements

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s