Sharing Pengalaman Studi di Jepang (9): Homestay


Ruangan itu mewah dengan tata kelola yang cantik dan perabotan-perabotan mahal yang memperindah suasananya, tapi sungguh yang lebih membuat suasana jauh lebih indah di ruangan itu adalah adanya suasana hangat nuansa khas keluarga yang menyelimutinya. Seketika aliran waktu membawaku ke sebuah mansion mewah dengan hidangan sushii terhidang di meja, ada mama, papa, dan adik di sana. Mama Yuka sangat cantik dengan ketelatenan tingkat tinggi dalam mengurus rumah tangga, tipikal wanita jepang yang terkenal telaten. Papa Noriyuki tampan dan gagah, sudah 18 tahun lebih bekerja di empat perusahaan yang berbeda, pekerja keras tapi ramah. Adik Haruki-chan lucu dan  cerdas, dia masih berusia 3 tahun tapi sudah mampu membaca tulisan jepang maupun tulisan inggris, bahkan dia bisa menghafal beberapa kata dalam bahasa Indonesia :) , dia juga mampu menghafal semua jenis kereta api, jika dibandingkan dengan anak sebayanya haru kun (demikian biasa saya memanggil haruki chan) adalah anak yang jenius. 

Hari itu selama sehari semalam saya menjadi “orang jepang” dengan menjadi bagian anggota keluarga SOGABE, makan dan tidur di rumah keluarga tersebut. Walau tidak secara penuh bisa memahami kehidupan sesungguhnya orang jepang dengan waktu yang sesingkat itu, tapi tentu cukup memberi gambaran sekilas bagaimana pola hidup keluarga Jepang karena Papa Noriyuki dan Mama Yuka tidak segan-segan bercerita apapun yang ingin saya tanyakan tentang mereka. Kisah ini mungkin boleh dibilang salah satu episode paling menarik selama saya tinggal di Jepang. Di hari itu rajutan-rajutan pranata sosial di Jepang dapat dilihat dari sudut yang lebih dekat. Di hari itu untuk pertama kalinya saya bertemu orang Jepang yang suka dan bisa mengerti bahasa Indonesia dalam skala yang besar. Di hari itu pula untuk pertama kalinya dalam hidupku aku punya adik hue he he, ya iyalah saya khan anak bungsu :) .

Acara ini adalah acara yang dihelat oleh internasional student center Tokyo Institute of Technology bekerjasama dengan hippo family club (klub keluarga jepang). Siang itu di lounge International Student Center kampus Ookayama Tokyo Institute of Technology segala cerita dimulai. Ketika jarum jam bertemu dengan angka satu, ruangan itu sudah penuh sesak oleh mahasiswa asing dan keluarga jepang yang menyambut mereka. masing-masing mahasiswa sebelum datang ke ruangan tersebut sudah ditentukan siapa yang menjadi keluarga jepang mereka, sehingga begitu datang host family mereka menyambut dengan hiasan-hiasan lucu ucapan selamat datang. Setelah semua host family dengan mahasiswa asing yang menginap di rumahnya bertemu, acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan diri oleh mahasiswa asing dan host familynya dengan mahasiswa dan host family lain. Begitu tiba giliran saya, saya mengucapkan “selamat siang semua…. ” dengan antusias keluarga jepang yang hadir di situ menjawab kompak “selamat siang… ”. Tidak mengherankan bila mereka bisa mengerti bahasa Indonesia, karena tiap minggu mereka belajar melalui bermain 20 bahasa yang berbeda, salah satu di antaranya adalah bahasa Indonesia. Setelah itu saya lanjutkan perkenalan dalam bahasa Jepang. Setelah beberapa sesi permainan dan sesi foto-foto bersama acara kemudian dilanjutkan dengan acara inti yaitu homestay itu sendiri :) .

Tidak berapa lama kemudian tibalah saya di sebuah barisan mansion mewah di dekat stasiun Fujigaoka, stasiun tersebut berjarak tiga stasiun dari stasiun nagatsuta yang merupakan stasiun terdekat dari asrama saya, di mansion inilah keluarga Sogabe tinggal. Ruangan yang pertama dituju adalah ruang refreshment di lantai tiga gedung tersebut, ruangan tu sangat nyaman dengan dapur, meja makan, dan sofa yang melengkapi perabotannya. Saya sebelumnya tidak tahu acara di situ apa, setelah satu persatu keluarga muncul baru saya tahu kalau saya diajak ke pertemuan hippo family club untuk diperkenalkan dengan anggota klub yang lain. Semuanya ibu-ibu datang dengan membawa anak-anak mereka, kemudian kami bermain permainan tradisional Jepang dipadukan dengan permainan tradisional Indonesia. Kalau dijepang biasanya suit-an dilakukan dengan batu- gunting-kertas, sayapun memperkenalkan suit-an ala indonesia dengan jempol telunjuk dan jari kelingking. Sayapun menjelaskan kalau jempol melambangkan gajah (Zo), jari telunjuk melambangkan orang (hito), dan jari kelingking menunjukkan semut (ari). Mereka sedikit heran, kenapa gajah bisa kalah sama semut, teman yang lainnya menimpali kalau gajah kalah karena semut masuk telingan gajah, oh….. diapun mengangguk tanda mengerti :) . setelah beberapa sesi permainan. dilanjutkanlah dengan menyanyikan lagu di sini senang di sana senang secara bersama-sama, memperdengarkan lagu “topi saya bundar”, dan “burung kakak tua”. Kemudian acara unjuk kebolehan dari anak-anak, ada yang baru belajar jurus karate kemudian memeragakan jurus-jurusnya di hadapan yang lain, ada yang bermain enggrang ala jepang, ada yang bermain gasing-gasingan, jika dipikir-pikir hampir sama persis dengan permainan tradisional di Indonesia. Setelah bermain drama Jepang yang coba saya jelaskan artinya dalam bahasa Indonesia, kamipun saling berkenalan. Sengaja bagian perkenalan diletakkan di akhir karena beberapa anggota keluarga baru datang setelah acara sudah berlangsung. Mereka mencoba memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia, tapi ada juga yang memperkenalkan diri dengan menggunakan logat malaysia, mungkin dikiranya saya dari malaysia :mrgreen:

Gedung mansion ini memang sangat besar dan berliku-liku, sehingga mungkin saya tersesat jika tidak diantar oleh mama Yuka. Ruangan mansion milik keluarga Sogabe terletak di lantai lima gedung tersebut. Haruki chan menyambut mamanya yang baru datang dengan riang,  sebetulnya tadi dia juga bermain di ruangan yang sama dengan saya tetapi karena sudah bosan dia pulang terlebih dahulu ke mansionnya. Mansion milik keluarga Sogabe memang mewah, jika dulu saya menganalogikan asrama nagatsuta dengan hotel bintang tiga, mansion ini boleh dibilang setara hotel bintang 4 plus. Sayapun datang dan langsung bermain dengan Haruki-chan, tampaknya dia mudah akrab dengan saya sampai minta dipangku segala :) . Papa Noriyuki sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam, hidangan malam itu adalah sushi. Setelah hidangan siap mama Yuka menyuruh Haruki-chan untuk mengatur tempat sumpit dan posisi duduk. Dia harus berfikir sendiri bagaimana posisi duduk masing-masing dan alasannya kenapa, sebuah tanggung jawab yang sudah ditanamkan sejak kecil untuk anak jenius ini. Selama makan, pembahasan tentu saja tidak jauh-jauh dari urusan makanan, mulai dari makanan di Indonesia sampai masakan Jepang. Saya hari itu baru tahu bagaimana cara menikmati sushii supaya lebih lezat, dan memang hidangan malam itu benar-benar lezat.

BERSAMBUNG

 

Advertisements

One comment on “Sharing Pengalaman Studi di Jepang (9): Homestay

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s