[Koudasai] Festival kampus Tokyo Institute of Technology


“Sajojo… sajojo…. Yumanampo misa papa, Samuna muna muna keke, Samuna muna muna keke. Sajojo…. sajojo….. Yumanampo misa papa, Samuna muna muna keke, Samuna muna muna keke. Kuserai, kusaserai rai rai rai rai.. kuserai, kusaserai rai rai rai rai… “  nyanyian kompak nan merdu dari pemuda-pemudi berbatik rapi dengan iringan gitar dan diiringi pula aksi menari bersama oleh sebagian dari mereka memukau banyak pengunjung sebuah festival yang kebetulan melintas di depan mereka.  Ini bukanlah pemandangan  dari sebuah sudut kota di papua barat, bukan pula sebuah bagian dari  sesi pengambilan gambar sebuah film bertajuk “kebudayaan nasional”, atau pula aksi iseng sekelompok pengamen jalanan yang mengimprovisasi diri dalam mencari sesuap nasi.  Tenda putih dengan hiasan-hiasan berupa informasi gempa di sumatera berapa waktu yang lalu, dan  sebuah stand makanan di sisi kanan tenda yang sama, yang menjajakan dua kuliner terkenal tanah air yaitu bakso malang dan kopi toraja adalah salah satu dari ratusan tenda yang hari itu berdiri dengan tegap untuk turut ambil bagian dalam semaraknya festival dan bazaar di sebuah kampus Engineering ternama di tanah negeri matahari terbit. Festival yang tidak lain adalah Koudasai, yang merupakan festival terbesar yang digelar tiap tahun untuk merayakan ulang tahun berdirinya Tokyo Institute of Technology, Jepang.

Seperti biasa dilakukan tiap tahun, festival tersebut digelar selama dua hari yaitu hari sabtu dan minggu pada minggu akhir bulan oktober bertempat di kampus Ookayama, Tokyo Insitute of Technology. Pada pergelaran Koudasai tahun ini pelaksanaannya dilakukan hari sabtu 24 Oktober 2009 dan hari minggu 25 Oktober 2009. Bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain Bazaar, open house laboratorium (pengenalan laboratorium ke masyarakat umum), dan juga pertunjukan  seni. Hari yang disambut meriah oleh masyarakat Jepang, karena di hari itulah mereka bisa melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana kecanggihan fasilitas laboratorium di sebuah Institute yang di mata masyarakat Jepang adalah perguruan tinggi impian. Tidak hanya itu saja, mereka juga bisa menikmati bazaar dan pertunjukan seni yang digelar  di hari yang sama untuk memeriahkan festival tersebut. Tidak ayal lagi pengunjung membludak dan menyesaki setiap sudut kampus, mirip dengan maraknya pengunjung di sebuah obyek wisata terkenal di negeri sakura ini.

  suasana bazaar koudasai

suasana festival koudasai

suasana open house sebuah laboratorium

pertunjukan seni beladiri

 suasana pertunjukan seni musik

Partisipasi Persatuan Pelajar Indonesia di Festival Koudasai

Aksi nyanyian kompak lagu sajojo yang diikuti dengan aksi dancing on the street tadi adalah aksi dari pemuda pemudi yang tergabung dalam persatuan pelajar Indonesia komisariat Tokyo Institute of Technology atau biasa dikenal sebagai PPI Tokodai. Aksi pertunjukan tersebut adalah bagian dari aksi solidaritas untuk menggalang dana untuk korban bencana alam gempa bumi di Sumatera Barat beberapa waktu yang lalu. Tenda putih di belakang mereka adalah stand milik ppitokodai yang juga turut ambil bagian dalam festival kampus tersebut. Seperti tahun-tahun sebelumnya, stand ppitokodai difokuskan untuk menjajakan kuliner tanah air, yang bertujuan untuk mengenalkan budaya Indonesia ke masyarakat Jepang yang menjadi mayoritas pengunjung pameran tersebut. Dipilihlah bakso Malang dan Kopi Toraja sebagai kuliner yang disajikan dalam menu tersebut. Sesuai peraturan dari panitia penyelenggara bahwa setiap stand hanya diperbolehkan menyediakan satu jenis makanan dan satu jenis minuman. Tidak hanya berdampak positif pada peningkatan jumlah masyarakat Jepang yang ingin berkunjung ke Indonesia, kegiatan ini juga berdampak sangat positif pada saldo keuangan ppitokodai tentunya, dengan laba yang menurut hitungan sementara menyentuh angka 200 ribu yen lebih :) .

stand koudasai ppitokodai

” Indonesia funo ikaga desyouka…..”, “Indonesia no oden de gozaimasu….”,  “gohyakuen waribikiken wo okubari shite orimasu..” sahut-sahutan suara para penyambut tamu menawarkan dagangan yang dijajakan sambil menyodorkan kupon diskon 50 yen kepada pengunjung festival yang kebetulan lewat. Cara yang sangat ampuh ternyata, karena dengan itu banyak pembeli tergiur datang untuk mencicipi menu yang ditawarkan. Seting stand koudasai ppitokodai pada hari kedua festival sedikit diubah dari seting stand pada hari pertama, dengan menyediakan ruang untuk makan bagi pengunjung, mengingat hari minggu pagi hari hingga tengah hari terjadi hujan lumayan lebat. Banyak juga pengunjung yang sangat menikmati fasilitas ini, sambil membaca-baca buku tentang Indonesia juga mendengarkan lantunan lagu-lagu yang dialunkan oleh para biduwan dan biduwati ppitokodai. Tidak melulu tentang lagu sajojo saja yang dinyanyikan, lagu-lagu daerah seperti bengawan solo, di sini senang di sana senang, atau bahkan lagu doraemon versi bahasa Indonesia juga didendangkan dengan kompak.

nyanyian riang

pemuda penjaja kupon diskon hi hi hi

Tidak hanya mengenalkan budaya Indonesia melalui makanan dan lagu-lagu daerah saja, ppitokodai juga menampilkan tarian Indang di Gymnasium Tokyo Institute of Technology yang diselenggarakan dalam rangka menggalang dana untuk korban bencana gempa bumi Sumatera Barat. Untuk persiapan tersebut latihan tarian dilakukan beberapa minggu sebelum even digelar. Untuk tujuan itu pula baju khas Sumatera Barat juga disiapkan untuk penari tersebut. Penampilan grup tari ini cukup memukau pengunjung yang hadir di Gymnasium tersebut. Berikut adalah penampilan para penari Indang ppitokodai di panggung koudasai 2009.

Tim tari Indang PPI tokodai berfoto bersama dengan penonton seusai tampil

 

Seusai kegiatan bazar kegiatan kemudian dilanjutkan dengan rapat ppitokodai pada malam harinya yang berisi laporan pertanggungjawaban ketua ppitokodai Teddy Ardiansyah, dilanjutkan dengan serah terima jabatan lurah ppitokodai ke lurah yang baru, Baharuddin Maghfuri, dan diakhiri dengan makan bakso spesial yang sangat menghangatkan badan :) . Suhu udara pada waktu itu berkisar 15 derajat celcius, yang cukup dingin untuk ukuran orang Indonesia, seakan menjadi bumbu tersendiri bagi bakso yang kami santap.

Advertisements

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s