Sharing Pengalaman Studi di Jepang (8): Kenangan Empat Musim


Hari ini tepat setahun yang lalu pesawat Japan Airlines dengan nomor penerbangan JL-726 yang menerbangkanku dari bandara Soekarno Hatta Jakarta itu mendarat gagah di bandara terbesar dan termegah seantero negeri ini, Narita Airport. Hari itu segala angan dan mimpi bertemu dengan dunia nyata, meletupkan kekaguman dan rasa tidak percaya. Hari itu seakan aku adalah salah satu pemeran dalam film “back to the future” atau film “time machine” yang melesatkan seting ruang dan waktuku meloncat dua jam lebih cepat dari waktu semula begitu menginjakkan kaki di negeri sarat teknologi ini. Hari itu tiba-tiba seakan-akan identitasku berubah menjadi allien alias makluk asing, dengan bahasa yang asing, dan wajah yang tampak asing bagi orang-orang di sekelilingku. Hari yang menurutku penting untuk dikenang, karena hari itulah segala kisah petualanganku di Jepang dimulai.

Entah bagaimana mendeskripsikan dengan bahasa yang tepat bagaimana aliran waktu ini terasa begitu cepat mengalir, hingga berdejavu dengan hari kedatanganku ke Jepang yang notabene 365 hari yang lalu seakan-akan baru merasakan 3 bulan berlalu.  Mungkin di sinilah teori relativitas ruang dan waktu milik Einstein berlaku, teori yang mendeskripsikan betapa relatifnya pengukuran waktu jika pengamat ditempatkan pada kondisi yang berbeda. Jika selama ini kita mengenal detik dalam satuan internasional sebagai durasi selama 9.192.631.770 kali periode radiasi yang berkaitan dengan transisi dari dua tingkat hyperfine dalam keadaan ground state dari atom cesium-133 pada suhu nol kelvin, mungkin definisi itu akan terlihat kacau secara relatif dalam pengamatan saya. Tidak terasa saya sudah melewati empat musim, melewati sejuknya musim gugur dengan suhu yang terus merambat turun, melewati dinginnya musim dingin yang sedingin freezer di kulkas, melewati musim semi yang penuh ceria, dan melewati musim panas yang garang. Di sinilah lembaran-lembaran kenangan empat musim akan coba ditampilkan sekilas.

Mengawali hari-hari pertama di Jepang dengan musim gugur menyambut bagi warga Indonesia adalah sebuah kenyamanan, karena pada awal musim gugur suhu udara di Jepang yang berkisar antara 22 derajat sampai 28 derajat tidak berbeda jauh dengan suhu rata-rata harian di Indonesia. Mengingat bahwa musim gugur adalah peralihan dari musim panas ke musim dingin, maka di musim inilah suhu akan merambat turun ke suhu sekitar 10 derajat celcius pada akhir november. Satu yang perlu dikenang di musim ini adalah kegiatan Momiji (diambil dari nama pohon sejenis persik yang daunnya berubah warna di musim gugur), mengamati indahnya daun berubah warna menjadi warna warni indah sebelum meranggas berguguran. Jika selama ini kita hanya mengenal bunga sakura sebagai satu-satunya pemandangan indah, tampaknya pandangan itu harus dirubah karena di musim gugur pemandangannya juga tidak kalah memukau. Pada kesempatan musim gugur yang lalu saya menikmati momiji di daerah danau Okutama, yang masuk wilayah ring luar kota tokyo, tempat bermomiji ria dengan kualitas bintang lima menurut penilaian saya.

Melewati musim dingin dengan salju mengguyur setiap hari adalah bayangan awal saya terhadap kota Tokyo sebelum berangkat ke Jepang. Sayangnya imajinasi itu mungkin hanya cocok untuk menggambarkan Tokyo satu dekade yang lalu. Entah mungkin ini karena efek Global Warming sehingga di tahun-tahun terakhir ini salju malas mengguyur kota Tokyo. Pun demikian halnya yang terjadi di musim dingin yang lalu, tercatat baru 3 kali salju mengguyur, dari 3 guyuran hanya sekali salju mengguyur cukup lama sehingga cukup untuk dibuat mainan salju-saljuan :)

Bunga sakura bermekaran indah menyemarakkan musim semi yang lalu. Bunga sakura memang indah, tapi sayangnya bunga ini hanya bertahan selama dua minggu sejak mekar hingga akhirnya berjatuhan dengan sendirinya. Pada masa mekar bunga sakura orang Jepang suka menghabiskan waktu bersantai bersama keluarga sambil menikmati indahnya bunga sakura atau biasa dikenal sebagai hanami. Di musim semi, tanaman-tanaman yang kelihatannya mustahil untuk berbunga ternyata juga memekarkan bunga yang sangat cantik, sehingga musim semi boleh dibilang musim berbunga-bunga dalam arti yang sebenarnya. Pada musim semi yang lalu saya berhanami ria di senzoku ike koen (taman senzoku Ike) yang merupakan salah satu spot terbaik menikmati indahnya bunga sakura. Di kampus Ookayama Tokodai juga bermekaran bunga sakura yang sangat indah, yang juga mengundang banyak orang untuk berhanami ria di kampus tokodai.

Melewati hari di musim panas rasanya kurang disukai banyak orang bila harus beraktifitas di luar rumah. Matahari yang bersinar garang dengan mudahnya akan menghitamkan kulit tanpa ampun, meninggalkan titik terlindung jam tangan di lengan kita menjadi seperti bagian terputih dari kulit tubuh kita. Malam hari juga berasa sangat gerah, mirip seperti suasana malam hari kota Surabaya Jawa Timur yang suka membuat gerah. Namun di tengah musim panas yang baru lalu itulah saya berhasil menggapai titik tertinggi di tanah Jepang, puncak gunung Fuji :) . Musim pendakian yang memperbolehkan pendaki mencapai puncak gunung Fuji memang hanya dibuka pada saat musim panas, karena pada musim yang lain puncak itu selalu diselimuti salju sehingga sangat berbahaya. Pada puncak musim panas saat saya berada di puncak gunung fuji saja suhu udara sekitar 6 derajat celcius, dengan angin kencang yang menembus lapisan terdalam tubuh, sangat dingin!.

Advertisements

One comment on “Sharing Pengalaman Studi di Jepang (8): Kenangan Empat Musim

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s