kusambut Ramadhanku dengan Cinta


Terpekurku dalam keheningan malam terisak mesra menyuarakan suara hatiku yang semakin parau. Keheningan malam tak mampu hentikan rengekan manja seorang hamba, mencoba menarik simpati sang Maha Esa penguasa Hati. Bulir-bulir airmata yang menetes seakan mewakilkan butir tasbih yang mesti dipegang.

“ berat ya Allah.. sungguh berat untuk selalu menjaga perintahMU terlaksana dengan baik” suara lirihku terlontar malu-malu memelas membelah keheningan malam. “ Sungguh aku inginkan terlaksana sempurna, ingin kubuktikan betapa ku mencintaiMU, betapa… kuingin Engkau selalu dekat dan semakin dekat” rayuan manjaku kembali terlontar. Rayuan monoton yang sama sekali akan membuat seorang insan bosan bila mendengarnya apalagi terucap rutin mengiringi rasa bersalah yang dalam manakala  teringat dosa yang ditaburkan.

Malam itu ingin kutumpahkan saja rasa hatiku, mengucap segala asa yang masih terpendam. Kadang rasa sesal menyelingi karena masih sebatas ini saja kualitas Imanku. Namun detik berikutnya segera kutepis saja rasa sesal itu, karena kuyakin rasa sesal dan ragu datangnya dari syaithan, yang hanya akan menjauhkanku dari sang Pencipta yang Maha Pengasih. “Aku harus menatap kedepan tanpa ragu untuk memperbaiki kualitas diri supaya kusemakin dekat denganNYA”, gumamku kemudian.

Akhir-akhir ini aku sering merasa sangat bersalah dan kesal. Bagaimana tidak, sudah beberapa kali ini kulewatkan sholat tahajjud dan sholat shubuh, karena terbangun di saat matahari sudah menampakkan senyum cerianya di ufuk timur. Masih boleh sholat memang, karena agama sudah mengaturnya demikian, tapi rasa hati tetaplah tidak sama. Rasa bersalah tetap saja hinggap, seakan aku adalah hamba yang paling tidak disiplin dan menepati janji. Seakan aku hanya perayu ulung yang hanya pandai meminta. Malu rasanya jika pada hari ketika semua amal dihitung tangan dan kakiku memberikan kesaksian yang memperberat amal burukku.

Musim panas memang sungguh menyiksa, panasnya suhu udara di siang hari dengan mentari yang bersinar garang, ditambah malam yang hanya memompakan udara panas menyelimuti bumi justru mengundang gerah ke sekujur tubuh. Pengab ruangan asrama begitu terasa saat pertama kali membuka pintu, huff…. gerahnya. Angin berhembus dengan kencangnya bukannya menebar kesegaran, tapi malah menambah gerah. Sesekali kunyalakan AC di kamar untuk mengusir rasa gerah itu jika tidak tertahan lagi. Tapi yang sungguh menyiksa dari semua itu adalah berubahnya waktu matahari menampakkan keperkasaan sinarnya, yang berpengaruh pula terhadap perubahan jadwal sholat harian. Sholat maghrib yang pada puncak musim dingin dimulai sekitar pukul 4.20 sore, pada saat puncak musim panas berubah menjadi sekitar pukul 7.30 petang. Pun halnya dengan waktu sholat yang lain, sholat shubuh misalnya, pada puncak musim dingin dimulai sekitar pukul 5.20 pagi pada musim panas berubah menjadi 02.20 pagi. Hal ini artinya jam tidur harus senantiasa diubah setiap saat agar tetap bisa menunaikan sholat tepat waktu. Bukan perihal bangun paginya yang menyiksa, tetapi perasaan ketika terlewat waktu sholat yang berharga hanya karena tidur yang tidak disiplin sungguh menyiksa batin.

Ehh…. tunggu… bukannya di Indonesia tidak mengenal musim panas dan musim dingin. Bukannya di Indonesia perubahan waktunya tidak sesignifikan itu. Paling banter ya beda setengah jam dari musim hujan ke musim kemarau. Bukannya ada suara muadzin yang akan membangunkanmu manakala waktu sholat tiba. Bukannya…. hmm??!!

Aliran waktu dan sentuhan taqdir Illahi memang telah membawaku ke suatu tempat yang berada di negeri seberang lautan, dibelahan bumi lain. Di sebuah kota metropolitan dengan biaya hidup termahal di dunia, di sebuah negara yang walau secara historis pernah menggores luka dalam di hati warga negara Indonesia tetapi sekarang menjadi salah satu sahabat terbaik bangsa Indonesia, di sebuah tempat di mana setiap detik sama berharganya dengan segunung tinggi kepercayaan, di sebuah negara di mana loyalitas dan totalitas adalah kebanggaan hidup. Yaa.. pada saat ini bumi yang kupijak bukanlah Indonesia tetapi sebuah negeri yang secara akrab disebut juga sebagai Negeri Sakura, Negeri yang pada masa lalu juga dikenal sebagai negeri para samurai.

Menjadi muslim di negeri yang mayoritas penduduknya tidak beragama seperti Jepang adalah suatu tantangan tersendiri. Jangan pernah membayangkan jumlah masjid di Jepang sebanyak masjid di Indonesia. Membayangkan suara pengajian mengalun merdu memenuhi segenap penjuru ruang, panggilan adzan yang berseru mengingatkan kita bahwa waktu sholat telah tiba. Ataupun membayangkan rombongan jemaah sholat berduyun-duyun membanjiri setiap lekuk masjid, mengisi ruang yang jarang tersisa. Ya… di Jepang mungkin hal itulah yang sangat di rindukan oleh kaum muslimin Indonesia di sini. Suasana ramai seperti tadi mungkin hanya akan terasa pada waktu sholat jumat atau hari raya idul fitri dan idul adha di masjid-masjid besar.  Pada hari-hari biasa, kaum muslimin di sini melaksanakan sholat berjamaah dalam skala yang kecil, dan kadang pula di daerah dimana hanya sedikit warga muslim bermukim, sulit sekali menemukan rekan untuk sholat berjamaah. Kesibukan sehari-hari dan jarak masjid yang jauh, tidak memungkinkan untuk mengunjungi masjid setiap sholat lima waktu, kecuali mereka yang bermukim di daerah dekat masjid. Pelaksanaan sholat jumat, bagi mahasiswa biasa dilaksanakan bersama teman-teman di Mushollah kampus. Sedangkan untuk sholat Idul Fitri dan Idul Adha bagi warga Indonesia di kawasan Tokyo dan Sekitarnya biasanya menunaikannya di Balai Indonesia (Sekolah Rakyat Indonesia) yang berada di Meguro Tokyo.

Saya termasuk salah satu dari sedikit orang beruntung di dunia ini, yang diberi kesempatan untuk bisa mengejar cita-cita belajar di negara yang diimpikannya, tanpa sepeserpun uang keluar. Bahkan setiap bulannya saya masih mendapatkan 50% gajiku dari institusi tempatku bekerja, gaji dari pemerintah. Uang beasiswa yang aku terima tiap bulan juga terhitung sangat besar dan berlebih untuk membiayai hidup sehari-hari, sehingga masih bisa untuk ditabung. Sebuah keadaan yang layak membuatku bersyukur.

***********************

“ hati-hati ya nak…. ngger.. moga mendapat ilmu yang bermanfaat, jangan lupa sholat dan ngajinya terus dijaga setiap hari” ucap bundaku sambil terisak. “Ibu akan selalu merindukanmu, jaga diri baik-baik ya nak”, linangan air matapun mulai membasahi pipinya yang suci. “nggih bunda… insyaAllah” bisikku lirih setelah kucium tangan dan kedua pipinya. “mulai sekarang saya tidak bisa memijit punggung bunda jika bunda ingin dipijat, dan saya juga tidak bisa lagi potong rambut gratis seperti biasanya” sambutku lagi sambil tertawa nyengir mencairkan suasana. Bundapun tersenyum kemudian memelukku erat dan terisak lagi. Suasana haru menyelimuti sudut pintu terminal keberangkatan salah satu bandara terbesar di Indonesia.

Hari itu adalah hari keberangkatanku ke  Jepang, sehingga semua anggota keluarga turut sibuk mempersiapkan keberangkatanku hingga mengantarku ke bandara. Mulai dari baju-baju yang hendak dibawa, kue-kue kering, bumbu-bumbu instan masakan Indonesia, buku, dokumen, dan laptop semua dipastikan supaya tidak ada yang ketinggalan. Ayah dengan sigap menyiapkan dan menata semuanya sehingga muat semua masuk di tas. Sepertinya mustahil bisa membawa semuanya melihat begitu banyaknya ragam bawaan yang akan aku bawa, tapi ternyata dengan rapinya Ayah mengaturnya sehingga muat. Setelah ditimbangpun, ternyata bobot total masih kurang dari 30 kg. Malu sebetulnya, sampai usia sedewasa ini masih merepotkan orangtuaku hanya untuk urusan packing barang seperti ini. Namun setiap kali aku mengatakan nggak usah dibantu mereka selalu mengatakan “ah nggak apa-apa nak, kamu istirahat saja biar tetap bugar di perjalananmu nanti”. Hari itu adalah tanggal 27 Ramadhan sehingga semua anggota keluarga termasuk ayah ibuku sedang berpuasa. Ayah terlihat panik juga mencemaskan jika terjadi apa-apa denganku selama di perjalanan. Berulang-ulang nasihat-nasihat ini itu diberikan hanya untuk memastikan bahwa aku akan baik-baik saja. Pagi-pagi saya diajak ke dokter untuk mendapatkan suntikan vitamin agar tetap bugar dalam perjalanan panjang nanti, mengingat pesawat yang akan membawaku transit ke Jakarta sebelum ke Jepang baru akan berangkat pukul 2 sore. Kebetulan karena rumah orangtuaku berada di Jombang Jawa Timur, sehingga bandara keberangkatanku adalah bandara Juanda Surabaya.

Saya terlahir di keluarga cukup sederhana namun alhamdulillah serba berkecukupan kalau untuk memenuhi kebutuhan pokok harian. Ayah adalah seorang PNS dari departemen Agama kabupaten Jombang sedangkan bunda adalah PNS dari sebuah madrasah ibtida’iyah di desa sebelah tempat kedua orangtuaku tinggal. Bungsu dari empat bersaudara dengan dua kakak perempuan dan satu kakak laki-laki. Nuansa pendidikan Agama sangat kental mewarnai kehidupan keluarga kami apalagi kedua orang kakak saya menempuh pendidikan di pesantren hingga pendidikan doktoral. Karena sering mendengar kakak yang mengaji, di usia sekitar 4 tahun sayapun bisa membaca Alquran dan hafal beberapa bacaan dzikir sholat padahal belum ada yang mengajari. Keharmonisan kedua orangtuaku begitu luar biasa, sehingga belum pernah selama seperempat abad kumenghirup udara di dunia ini melihat mereka berdua bertengkar. Dalam banyak kesempatan aku bahkan sering memergoki ayah dan bunda berduaan dengan mesranya kemudian berdiskusi asyik membicarakan anak-anaknya mirip seperti anakmuda sedang pacaran, padahal usia ayah sudah 64 tahun sedang bunda sudah 59 tahun. Untuk memutuskan sesuatu biasanya mereka putuskan berdua. Pada saat pergi haji beberapa tahun lalu merekapun pergi berdua ke tanah suci. Biaya haji yang tinggi bagi seorang PNS, apalagi untuk pergi berdua memerlukan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk menabungnya. Ini artinya mereka sudah merencanakan ini belasan tahun yang lalu.

Siti A’isyah, nama yang resmi disandang bunda ketika menikah dengan ayah, nama yang mencerminkah harapan bahwa semoga yang memiliki nama itu bisa seshalehah istri rasulullah yang mempunyai nama yang sama. Saya kurang tahu persis bagaimana nama lahir bisa diubah, tapi begitulah yang terjadi di era dulu. Kepercayaan yang secara sempurna dijalankan oleh bunda. Bagiku dialah sosok besar dibalik kesuksesan anak-anaknya. Bunda terbiasa bangun jam 2 dinihari untuk sholat tahajjud, mengaji kemudian memasak. Setelah sholat shubuh dan mengaji lagi beliau kemudian lanjutkan lagi memasak masakan yang lain. Kepandaian bunda memasak memang hebat sehingga seringkali aku berujar masakan bundaku yang terenak di dunia. Jam 7 pagi bunda juga berangkat ke sekolah untuk mengajar. Selesai mengajar berbelanja lagi untuk kemudian memasak, menyiapkan masakan lainnya untuk makan malam. Demikian tiap hari rutinitas yang dijalani bunda sejak tigapuluh tahun lebih hidup bersama dengan ayah. Pada waktu kecil saya sering berfikir bahwa semua wanita di dunia ini adalah seperti bunda yang feminin cantik dan pandai memasak. Seiring waktu berjalan, kusadari bahwa hanya sedikit wanita yang bisa seperti bunda, sungguh beruntung ayahku.

“ Nak jam berapa jadwal keberangkatannya” tanya bundaku cemas. “Jam dua sebetulnya bunda, tapi katanya ada delay 30 menit, tapi saya akan masuk 15 menit lagi bunda” jawabku menerangkan.   “Ya sudah nak kamu masuk saja sekarang ke ruang tunggu, sekalian istirahat di dalam” jawab bunda. “Ingat ya nak.. jangan lupa sholat dan ngaji ya di sana” nasihat bunda kemudian. Nasihat yang sama yang selalu kuterima sejak kecil. Di saat orang tua teman-temanku sibuk bertanya tentang ranking di kelas atau nilai IPK, hal yang selalu ditanya bunda adalah gimana sholatku dan ngajiku. “Inggih bunda, peluk sayang dari ananda” jawabku kemudian sambil memeluknya erat. Setelah berpamitan dengan semua anggota keluarga, kulangkahkan kaki menuju pintu keberangkatan domestik untuk melakukan penerbangan menuju Jakarta. Dari Jakarta pesawat akan terbang ke Narita Tokyo tengah malamnya. Perpisahan yang berat…, ini artinya aku baru bisa ketemu orangtuaku minimal setahun lagi.  Ini sebetulnya bukan pertama kali aku jauh dari rumah karena hampir delapan tahun hidupku kuhabiskan di Malang Jawa Timur tempatku meraih Sarjana untuk kemudian bekerja. Namun sedikit beda, karena paling bentar sebulan sekali aku masih bisa melepas rindu, tapi ini… Aku seakan merasa sebagian jiwaku tertinggal di bandara itu.

Beberapa saat kemudian saya sudah berada di dalam pesawat. Setelah delay 30 menit yang diberitakan akibat ada pesawat rombongan Wapres sedang mendarat di Surabaya, akhirnya pesawat terbang itu benar-benar terbang. DI kanan-kiri kulihat barisan awan putih terpapar cahaya matahari senja, indah sekali seperti arak arakan gunung-gunung es bertaburan merata hampir di sepanjang batas mata memandang. Hari itu sebagian jiwaku terbang bersama kerinduan yang sangat. Ingin kuputar ulang waktu supaya kubisa memeluk erat bunda lebih lama, tapi aku tak kuasa. Inilah jalan hidup yang harus kutempuh demi cita-cita yang telah lama kuimpikan. Dalam diamku yang terpaku melihat arak-arak awan, akupun berujar dalam hati “ya Allah ingatkan aku bila aku lupa akan nasihat ibuku, bahwa mencintaiMU adalah hal terindah untuk membuktikan cintaku pada bundaku, bahwa berbakti kepada ayah dan bunda adalah hal terindah untuk melukiskan cintaku padaMU, aku akan selalu mengingat nasihat bundaku”.

**********************

Tring…… tring….. tring….. suara jam bekerku berjingkrak-jingkrak nyaring memecah kesunyian. “Masya Allah aku tertidur” pekikku dalam. Oh… ternyata barusan aku bermimpi akan masa laluku. Mimpi yang seakan-akan menamparku halus, mencoba mengingatkan akan komitmen yang harus kupegang. Mimpi yang membalas keluhan-keluhanku tadi, bahwa tidak sepantasnya aku mengeluh dengan segala kendala kecil ini. Bahwa sesungguhnya aku sendiri yang dulu bermimpi untuk bisa ke tempat ini, tidak sepatutnya ku mengeluhkan kewajibanku kepada Sang Maha Kuasa Pengabul Mimpi.

Hari ini sengaja setting alarm jam beker kubuat lebih awal berbunyi. Hari ini awal hari dimana pahala setiap muslim akan dilipatgandakan, hari dimana pintu maghfirrah terbuka lebar, hari ini adalah tanggal 1 Ramadhan , hari dimana sebulan penuh kemudian bercecer bonus-bonus pahala berlimpah di setiap amal perbuatan. Segera kubergegas mengambil makanan sahur yang sudah aku siapkan semalam. Makanan Indonesia, itulah menu hari itu, menu harian makanan yang juga biasa aku santap. Aku lebih memilih memasak sendiri masakanku, karena alasan untuk memastikan kehalalan makanan yang aku santap, mendapatkan makanan halal di Jepang dengan selera seperti selera nusantara adalah hal yang tidak mudah dan tidak murah. Ada banyak keuntungan lain sebetulnya yang bisa didapat diantaranya adalah mampu menekan rasa homesick yang kadang menyerang.

“Ya Allah… sudah hampir setahun berlalu sejak kedatanganku ke Jepang” gumamku. Aku masih teringat waktu pertama kali datang ke Jepang adalah 2 hari menjelang Idul Fitri tahun lalu, Itu artinya menjelang akhir Ramadhan tahun lalu. Dan kini akhirnya aku bertemu lagi dengan bulan suci ini. Cepat sekali waktu berputar, seakan kuberada di dimensi ruang dan waktu yang berbeda, yang menghanyutkanku ke batas waktu yang lain dengan cepatnya. Aku senang dengan kesempatanku bertemu lagi dengan bulan suci ini, namun di sisi lain sedih juga dengan pencapaianku selama ini yang masih itu-itu saja padahal sudah hampir setahun berlalu.

Kuhabiskan makanan sahurku dengan kidmat, setelah berucap hamdallah dan doa sesudah makan. Kubaca doa niat berpuasa ramadhan. “Ya Allah semoga Ramadhan ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya”. “Semoga rahmadMU senantiasa tercurah pada hambaMU ini”. “Semoga cintaku kepadaMU semakin besar seperti halnya cintaku kepada kedua orangtuaku”, doaku mengiba mengawali hari yang suci di bulan yang suci, bulan Ramadhan.

Advertisements
By msholihulh Posted in cerpen

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s