Sharing Pengalaman Studi di Jepang (5): Makananku


Adalah suatu hal yang menyenangkan bila di suatu tempat di negeri seberang lautan, di zona waktu yang berbeda, disaat hati mulai rindu akan nuansa kuliner tanah air yang mempesona, kita bisa mencicipi makanan favorit kita. Setiap kunyahan akan terasa seperti sesuatu yang tak ternilai dan akan terlontar kata mak nyuss…. mak blegender… dengan tulus ikhlas 🙂 . Persoalan makanan mungkin akan jadi masalah siapapun jika tinggal di lingkungan yang baru, tidak harus tinggal di negara lain, tinggal di kota yang berbeda yang hanya berjarak beberapa puluh kilometer saja manakala olahan kulinernya berbeda dengan olahan kuliner di kota asal kita mungkin akan sulit membuat kita kerasan. Bagaimana dengan mereka yang hidup di luar negeri? tentu saja rasa itu lebih dahsyat, karena tidak setiapwaktu kita bisa melepas rindu akan lezatnya kuliner tanah air. Bahkan mungkin di beberapa daerah dimana sulit menemukan rekan senegara tinggal di wilayah yang sama, menikmati kelezatan kuliner tanah air hanyalahsebuah mimpi yang tak berwujud.

Keberagaman kuliner Jepang serta kelezatannya memang tidak bisa dipungkiri. Apalagi bagi anda pecinta wisata kuliner, mendengar cerita tentang kelezatan masakan Jepang saja tentu akan membuat air liur anda mengalir tanpa sadar 🙂 . Namun bagi lidah saya, orang Jawa Timur asli, yang terbiasa dengan masakan berbumbu rempah-rempah lengkap serta pedas perlu waktu yang cukup lama untuk berpindah hati menyukai masakan Jepang pada kesempatan pertama memakannya. Saya baru mulai menyukai masakan Jepang setelah mengikuti acara party lab (makan-makan dan minum-minum bersama) anggota lab di sebuah restoran Jepang di dekat stasiun aobadai, dua stasiun dari stasiun Nagatsuta, seminggu yang lalu. Itu artinya perlu waktu cukup lama bagi saya untuk bisa spontan mengucapkan “oishii…. umai…. – lezat….enak.. ” manakala menyantap hidangan masakan Jepang. Ada beberapa makanan yang disuguhkan seperti, pizza babi, berbeque daging sapi, ayam goreng renyah,memang karena alasan agama tidak bisa saya makan, tapi sebagian besar menu lainnya alhamdulillah bisa saya makan karena terdiri dari olahan daging ikan, sayuran, dan udang yang rasanya sungguh sangat-sangat lezat. Pun halnya dengan minuman, disaat semua teman-temanmemilih sake, wineatau bir untuk minuman mereka, karena alasan agama saya lebih memilih memesan cora (cola) dancarupizu (calpis) sebagai minuman saya. Bagi kita yang beragama Islam yang sedang hidup di lingkungan mayoritas tidak beragama seperti di Jepang, adalah sebuah tantangan tersendiri memang untuk tidak menyentuh apalagi memakan makanan-makanan yang tidak dihalalkan oleh agama kita, apalagi kondisi saat itu saya sedang lapar-laparnya. Teman lab saya, Arai-kun dengan telatennya memilihkan menu apa saja yang bisa saya makan dan tidak segan memberitahu jika ada kandungan daging selain ikan dalam makanan tersebut. Singkat cerita saya bisa menikmati pesta tersebut tanpa melanggar larangan agama, alhamdulillah 🙂 .

Kembali ke topik semula, diartikel ini, saya tidak hendak menceritakan makanan Jepang di pesta tersebut, tetapi hanya akan menceritakan makanan apa saja yang biasa saya santap sehari-harinya di Jepang. Awal kedatangan sayadi Jepang kurang lebih delapan bulan lalu masih membekas dalam dalam ingatan. Dua minggu awal yang merupakan masa beradaptasi dengan kehidupan di Jepang, saya memakan makanan Jepang dengan membelinya dari kombini (convention store) atau shokudo (kantin kampus). Beberapa makanan itu antara lain nasi onigiri (nasi kepal ala jepang berisi ikan dan dibalut dengan rumput laut), mie udon (mie khas Jepang) atau sanma (ikan salmon goreng setengah matang). Beberapa kali tidak lupa diselingi dengan lauk yang dibawa dari tanah air pada saat memakan makanan di asrama. Bisa dibayangkan bila makanan yang kita makan hanya itu-itu saja tentu akan mengundang bosan dengan cepatnya, walaupun pada awalnya begitu bangga bisa memakan makanan yang biasanya hanya kita lihat di film kartun Jepang 🙂 . Ya.. itulah yang terjadi, dua minggu cukup sudah membuat saya bosan akan menu yang disantap ketika akhirnya saya berfikir untuk menyiapkan sendiri saja masakan yang ingin saya makan, memasak!!.

Bekal kemampuan memasak saya memang tidak berawal dari titik nol, karena sebelum berangkat ke Jepang saya sempat ditraining oleh bunda untuk membuat perkedel kentang dan sayur sop, yang merupakan salah satu makanan favorit saya 🙂 . Secara mental sebelum keberangkatan ke Jepang,saya juga sudah menyiapkan hati bahwa di Jepang saya mungkin akan memasak sendiri makanan saya. Makanan yang dimaksud, hanyalah seputar nasi dan lauknya, sedangkan untuk kue minuman dan makanan lain saya bisa memperolehnya dengan mudahnya di supermarket terdekat. Kue Jepang punya taste yang hampir seratus persen mirip dengan kue di Indonesia, bahkan beberapa kue jauhlebih lezat. Karena standar makanan di Jepang sangat tinggi, kita tidak perlu khawatir akan zat-zat yang berbahaya sebagaimana biasa kita jumpai di beberapa kuliner tanah air, seperti biasa diberitakan di tayangan televisi swasta tanah air setiap sabtu sore. Yang perlu kita waspadai, sebagai muslim kita perlu melihat terlebih dahulu menu yang terkandung dalam setiap kue di kemasan kue tersebut, apakah ada zat-zat yang dilarang oleh agama kita atau tidak. Jika anda ingin tahu bagaimana cara memilih makanan halal di Jepang, silahkan baca artikel tentang makanan halal di Jepang. di blog ini.

Internet menyajikan setiap informasi yang kita inginkan dengan mudahnya, dan melalui internet itu pulalah saya belajar bagaimana memasak makanan yang ingin saya makan. Misalnya saya ingin memasak ikan balado atau ayam balado, tinggal ketikkan “cara memasak ikan balado” di search engine,cling… akan muncul ribuan referensi yang menampilkan cara memasak ikan balado lengkap dengan informasi bumbu yang harus disiapkan. Beberapa makanan yang bumbunya sulit didapat seperti rawon, kare dan soto cukup terbantu dengan tersedianya bumbu instant. Lagi-lagi singkat cerita 🙂 , berikut adalah foto-foto narsis makanan hasil olahan saya sendiri:

Untuk buah-buahan, saya biasa membeli semangka, melon, jeruk, apel atau anggur yang biasa tersedia di supermarket terdekat. Harga apel dan Jeruk di Jepang hampir sama dengan harga di Indonesia. Harga anggur merah kurang lebih dua kali lipat harga di Indonesia. Sedangkan harga semangka bisa lima kali atau bahkan sepuluh kali lipat harga di Indonesia.

Untuk minuman, disamping minuman air putih yang bisa kita dapat dengan mudah dari air kran (perlu diketahui bahwa air kran di Jepang seperti yang terjadi di negara maju lainnya dapat langsung diminum tanpa perlu dimasak), karena saya menyukai minuman yang manis saya lebih menyukai susu strowbery daripada susu segar yang rasanya tawar. Pagi hari sebelum sarapan nasi, jika perut terasa tidak sabar menunggu nasi matang saya biasa sarapan dengan secangkir susu strowbery yang dicocol dengan roti tawar, hmm maknyus 🙂 )

Untuk ragam kue, ada banyak ragam kue yang bisa dipilih dari supermarket. Beberapa kue yang paling saya sukai yaitu donat, roti roll, roti melon, dan roti coklat. Harganya berada di kisaran 95 yen sampai 140 yen perbungkus. Kadang juga bila ada waktu, saya menyempatkan membuat pisang goreng atau kolak pisang sendiri. Di tengah dinginnya musim dingin, menyantap hangatnya semangkuk kolak pisang dan sepiring pisang goreng mungkin bisa dianalogikan meminum air segar di tengah panas gurun, mantab!! 🙂

Advertisements

2 comments on “Sharing Pengalaman Studi di Jepang (5): Makananku

  1. Pingback: Tips Hidup Hemat Namun Sehat dan Ceria Ala Pelajar di Jepang | Mokh. Sholihul Hadi

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s