sharing pengalaman studi di Jepang (3): Laboratorium


Jarum jam menunjukkan pukul 16.30 sore hari, angin dingin berhembus pelantapi matahari sudah malas menampakkan diri, menyembunyikan keperkasaannya di balik horizon bumi berganti wujud menjadi mega merah indah di ufuk barat. Suhu udara 12 derajat celcius yang pada siang tadi cukup nyaman dikulit, kini berubah menjadi dingin membekukan badan. Saat ini adalah awal dimulainya musim gugur di Jepang, sehingga matahari terbenam lebih cepat dan terbit lebih lambat. Sebaliknya pada musim panas matahari terbit lebih cepat dan tenggelam lebih lambat. Hari itu setelah bersusah payah mencoba berangkat sendiri ke kampus dengan densha (kereta listrik di Jepang) kemudian menghadiri beberapa kuliah awal tibalah saya di Laboratorium saya di gedung S 2 kampus suzukakedai Tokyo Institute of Technology. Laboratorium saya terletak di lantai ke-7 atau lantai teratas gedung ini. Nuansa modernitas jepang sudah menyambut saya di pintu masuk gedung yang dilengkapi dengan pintu berpassword untuk bisa mengakses masuk. Pada hari biasa (senin sampai jumat) dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore pintu tersebut dapat dilewati tanpa mengisi kode sandi tertentu, selain jam tersebut terutama di hari libur pintu tersebut akan terkunci otomatis dan harus dibuka dengan mengetikkan password.Dengan cara tersebut, orang yang tidak berkepentingan tidak akan bisa mengakses masuk.Semua gedung di kampus Tokyo Institute of Technology dilengkapi dengan teknology serupa, yang berbeda hanyalah cara memasukkan kode sandinya.Ada yang harusmenekan nomor tertentu, ada pula yang perlu menyentuhkan kartu mahasiswa, dengan menyentuhkan kartu mahasiswa terus dilanjutkan dengan memasukkan password,atau cara yang terakhir adalah dengan menyentuhkan kartu khusus yang hanya dimiliki oleh anggota laboratorium tersebut. Sebuah teknik pengamanan yang keren tapi sudah lama diimplementasikan di Jepang, yang oleh sebagian besar mahasiswa elektro di Indonesia masih saja dipakai sebagai judul tugas akhir haduh haduh..  . Untuk menuju ke lantai tersebut tidaklah susah, karena gedung ini dilengkapi dengan lift yang juga canggih. Seketikakita membuka pintu lift, Lift akan menyambut dengan sapaan “irasshaimasen – selamat datang”, dan dilanjutkan dengan berbicara “silahkan tekan tombol untuk menuju lantai yang ingin anda tuju” (dalam bahasa jepang), setelah tombol ditekan maka akan disusul ucapan, “ueni mairimashu-lift bergerak ke atas”, ketika tiba di lantai ke-7 si lift pun berkata lagi “nanakai desu – lantai 7″. suara tersebut berasal dari sistem sound sistem lift yang mengadopsi teknologi semacam robot, sehingga merespon secara otomatis dan berfungsi 24 jam non stop 7 hari dalam seminggu. Sebuah teknologi tepat guna yang lagi-lagi masih dalam alam pikiran peneliti-peneliti di Indonesia, tapi sudah terimplementasi secara lama di Jepang. Di hampir semua gedung yang pernah saya singgahi di Jepang sudah menerapkan teknologi tersebut.

Di lantai 7 yang merupakan lantai teratas gedung ini pintu liftpun membuka seakan mempersilahkan saya untuk melangkah keluar. Bagian selanjutnya yang ingin saya tuju adalahruang kerja saya di laboratorium Iwai. Dan wow…sekali lagi kecanggihan teknologi Jepang dihamparkan dihadapan saya.Pintu menuju lorong ke arah ruang kerja saya juga dilengkapi dengan pintu berpassword, yang hanya memungkinkan orang yang berkepentingan saja yang bisa masuk ke ruangan tersebut. Laboratorium Iwai termasuk laboratorium mewah dan besar di Tokyo Institute of Technology karena seluruh ruangan di lantai 7 gedung tersebut adalah milik laboratorium Iwai. Laboratoriumini terdiri dari ruang kerja (tempat keseharian anggota labiwai belajar dan mencari hiburan), ruang seminar (untuk kegiatan seminar lab dan meeting lab), ruang eksperimen (untuk fabrikasi semikonduktor) yang terdiri dari 3 ruang besar, dan ruang beristirahat yang dilengkapi dengan tempat tidur, dapur, sofa, dan televisi LCD superbesar. Seperti halnya setiap lantai di gedung ini yang juga dilengkapi toilet supercanggih, di lantaiini juga dilengkapi dengan toilet dengan teknologi serupa. Lampu akan menyala secara otomatis jika ada orang yang masuk, kemudian jika ingin menggunakankloset bukaankloset akan terbuka secara otomatis jika kita berada di dekatnya dan akan menutup sendiri jika kita selesai menggunakannya. Untuk menyiram air kloset, ada panel kontrol di sebelah toilet yang bisa mengatur jenis siraman apa yang diinginkan. Teknologi toilet di Jepang memang selalu melakukan inovasi setiap tahunnya, sehingga tak jarang hanya dengan menjelajah toilet-toilet yang ada di Jepang kita bisa mengetahui sejarah perkembangan toilet dari toilet yang tradisional banget sampai yang supercanggih. Di beberapa hotel dan mansion yang ada di Jepang bahkan toilet sudah dilengkapi dengan musik lembut begitu kita masuk ke toilet. Untuk tempat buang air kecilpun teknologi sensor juga ditanamkan, sehingga akan menyiram air secara otomatis manakala kita selesai buang air kecil. Kran air juga dilengkapi dengan sensor yang akan mengeluarkan air jika telapak tangan kita didekatkan di bawah pancuran airnya dan akan berhenti sendiri jika tangan kita dijauhkan kembali. Pada sisi satunya dilengkapi dengan kran, yang akan mengeluarkan sabun tangan secara otomatis jika tangan kita didekatkan ke tempat curahan sabun. Adaptasi sistem ini mirip dengan sistem rumah cerdas yang biasa kita saksikan di film-film fiksi hollywood, nah kalo yang satu ini namanya sistem toilet cerdas  .

Barisan teratur meja-meja yang diatur bersebelahan, dan berlarik-larikdiatur sedemikian rupa supaya ruangan tersebut muat menampung sekaligus menyamankan penghuninya adalah pemandangan yang tampak ketika saya membuka pintu ruang kerja laboratorium Iwai. Ruangan tersebut cukup besar, kurang lebih 15 meter x 15 meter, yang digunakan sebagai tempat kerja penghuni laboratorium. Setiap meja dilengkapi dengan minimal sebuah komputer keluaran terbaru yang supercanggih dan sebuah rak buku. Saya terkaget-kaget ketika saya pertama kali datang ke lab ini, saya sudah dihadiahi satu buah komputer canggih tersebut oleh sensei. Sudah menjadi kebiasaan di Jepang, kalau mahasiswa baru mendapat meja kerja khusus untuk tempat dia belajar, tapi kalau sampai disediakan PC baru mungkin tergantung kondisi finansial lab kayaknya he he. Ruang kerja di lab-lab peguruan tinggi di Jepang umumnya didesain sedemikian rupa sehingga senyaman rumah, karena dalam sehari mahasiswa menghabiskan sekitar 12 jam untuk berada di lab, bahkan tidak jarang ada yang memilih tidur di lab sepanjang semester berjalan. Oleh karena itu, berbagai barang kebutuhan sehari-hari juga ada di situ seperti tempat memasak air, kompor gas, makanan ringan, minuman ringan, buku pelajaran, komik, baju, jaket dan lain-lain. Di lab inipun suasana tersebut sangat tampak, ada barisan komik tersusun rapi di pojok ruangan, di pojok lain ada peralatan untuk membuat kopi dan memasak, ada pula pojok makanan tempat oleh-oleh penghuni lab yang habis berjalan-jalan ke suatu tempat, boneka-boneka lucu yang diletakkan di rak buku, dan makananpribadi seperti: roti, snack, kopi, teh, dan lainnya ditaruh di laci meja masing-masing  . Umumnya penghuni lab mulai datang ke lab sejak pukul 10 pagi, dan baru akan pulang pada pukul 10 malam atau bahkan lebih. Saya biasanya pulang dari lab di kisaran pukul 10 malam, sehingga sering pula menyimpan kue dan makanan lainnya di meja kerja. Budaya pulang lebih awal bagi warga Jepang adalah sesuatu yang memalukan, sehingga jika kita ingin ijin pulang lebih dahulu rasanya juga malu luar biasa. Keseharian di lab tidaklahhanyadiisi dengan belajar, dan riset, jenis hiburan lain juga biasa dilakukan. Tidak jarang para anggota lab bermain game dan nonton tv untuk melepas penat. Jika ingin berolah raga tinggal berangkat saja ke Gym Universitas yang terletak tidak jauh dari gedung lab ini. Di gym tersebut setiap mahasiswa bebas menggunakan fasilitas fitnes dengan menggunakan kartu mahasiswanya. Karena tidak suka dengan gym saya lebih suka berinternet ria atau bermain futsal dengan teman-teman untuk mengusir penat.

Bersambung

Advertisements

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s