sharing pengalaman studi di jepang (2): densha


Hiruk pikuk, langkah kaki yang menderap cepat, pria dan wanita berjas rapi menyambut saya di Stasiun Nagatsuta, Yokohama Jepang. Stasiun ini adalah stasiun terdekat dari asrama saya berjarak kurang lebih 1,5 kilometer yang harus saya tempuh dengan berjalan kaki. Jarak tersebut bagi orang jepang tidaklah begitu jauh, dan mereka bisa menempuhnya dalam 15 menit. Tapi bagi kita orang Indonesia, mungkin begitu mendengarnya, wow… jauh banget.. nggak kebayang gimana ya jalan sejauh itu. Dan memang 15 menit adalah 15 menit standarnya orang jepang, kaki mungil saya ini menempuh jarak itu setidaknya 25 menit, padahal sudah berusaha berjalan setengah berlari tapi tetap saja kadang ada saja orang jepang yang menyalip saya, ibu-ibu pakai sepatu hak tinggi lagi..  🙂

Hari itu adalah untuk pertama kalinya saya berangkat ke kampus sendiri setelah sebelumnya harus diantar oleh sensei saya pulang ke asrama setelah berkenalan dengan beliau. Transportasi dengan kereta listrik (densha) adalah denyut nadi transportasi utama di negara sakura. Panjang rel kereta listrik Jepang adalah yang terpanjang di dunia. Orang jepang menggunakan transportasi ini karena sangat efisien, cepat dan murah daripada menggunakan mobil pribadi mereka yang sekali parkir perjamnya bisa mencapai 500 yen (65rb rupiah). Bagi orang asing yang baru pertama kali menggunakan sarana transportasi ini tentu akan merasa sangat kebingungan, termasuk saya J .  Sebelum menggunakannya kita harus membeli kippu (tiket) untuk bisa masuk ke jalur stasiun yang kita ingin tuju.

“sumimasen… Kippu o kaitai desu keredemo, kono denshiki tsukaikata wakarimasen, tetsudau site itadakemasenkan?”- maaf… saya ingin membeli tiket tapi tidak tahu cara menggunakan mesin tiket ini bisakah anda membantu saya?, tanya saya pada salah seorang bapak yang kebetulan ada di dekat saya. Diapun membantu dengan total, padahal saya tahu dia sedang buru-buru. Orang jepang di samping mempunyai disiplin waktu yang tinggi juga suka totalitas dalam membantu. Karakter orang jepang yang saya lihat di televisi, yang terkenal keras dan tidak mau peduli sama sekali tidak tampak. Boleh dibilang hotondo (hampir seratus persen) orang jepang adalah ramah. Saya justru merasa bahwa di Jepang saya sedang menemukan kampung Jawa yang lain di belahan bumi yang lain, walaupun bahasanya bukan bahasa Jawa. Kita akan tahu karakter orang jepang sesungguhnya setelah tiba di Jepang, terutama jika pergi ke kota selain Tokyo dan Yokohama, walaupun kita masih akan tetap menemukan serpihan mozaik keramahan itu di kota ini.

Sejurus kemudian saya sudah mendapatkan tiket yang saya mau. Sebetulnya caranya sangat mudah, tinggal masukkan koin ke tempat koin atau uang kertas ke tempat uang kertas, kemudian sentuh berapa nilai tiket yang diinginkan pada layar, tiiit keluar tiket yang kita minta dan juga uang kembalian dari mesin tersebut, selesai. Untuk menuju ke stasiun suzukakedai yang hanya berjarak 2,5 km saya harus membayar 120 Yen (Rp. 15rb) sekali jalan, huh.. mahalnya. Harga tersebut adalah harga minimal sebuah tiket densha (kereta listrik di Jepang). Sebelum menuju jalur yang ingin dituju, kipputersebut harus dimasukkan ke mesin pemeriksa tiket. Caranya juga sebetulnya mudah, tinggal masukkan kippu (tiket) tersebut ke ujung tempat kita datang, kemudian diambil lagi di ujung yang lain. Pintu kecil di ujung yang lain akan membuka jika Kippu (tiket) kereta yang kita masukkan tepat. Perlu diketahui bahwa ada beberapa perusahaan kereta listrik di Jepang, yang saya tahu berporos pada dua jenis kereta yaitu JR (Japan Railway), dan non JR. Kita harus membeli tiket yang berbeda untuk perusahaan kereta listrik yang berbeda. Kippu tersebut harus dijaga jangan sampai hilang, karena kita harus melakukan prosedur yang sama begitu kita sampai di stasiun tujuan. Jika sampai hilang, kita harus membayar harga tiket tersebut ke petugas stasiun yang kita tuju untuk bisa keluar dari stasiun. Jika nilai kippu (tiket) yang kita beli kurang dari nilai yang diminta sesuai ketentuan, di stasiun yang dituju kita harus melakukan fare adjustment (penyesuaian nilai tiket) untuk menyesuaikan nilai tiket dengan menggunakan mesin fare adjustment di bagian dalam stasiun dekat mesin pemeriksa tiket otomatis.

“Suzukakedai eki made dochira desu ka?”- jalur yang mana yang menuju ke arah statisiun suzukakedai? Tanya saya pada seorang Jepang lainnya. “Kochira desu, kono kaidan ni orite sugu demasu, yon ban to san ban desu”-  ke sini, tangga ini turuni saja, langsung sampai di tempat, jalur no 3 dan no 4 ya. “Arigatou gozaimashita”- terimakasih banyak, sayapun langsung mengucapkan terimakasih atas bantuannya. Bukan hal yang aneh bertanya di sini bagi orang asing, mengingat stasiun nagatsuta termasuk relatif besar, ada setidaknya 4 jalur kereta yang berbeda antara lain JR yokohama line (yang menghubungkan jalur-jalur Japan Rail di kota Yokohama), Den-en toshi line (yang menuju pusat kota tokyo, shibuya, akihabara, Nagatacho dll), yokohama line (yang menuju chuo rinkan-salah satu daerah di yokohama), dan satu lagi saya belum tahu jalur kemana karena belum pernah memakainya. Jalur menuju kampus saya di suzukakedai adalah jalur Yokohama line, berjarak dua stasiun dari stasiun Nagatsuta. Kereta yang berhenti  di stasiun suzukakedai hanyalah kereta lokal. Dalam sistem transportasi Jepang dikenal ada tiga jenis kereta, yaitu kereta lokal (berhenti di setiap stasiun), kereta semi express (berhenti di stasiun tertentu saja tetapi prioritas jalur masih di bawah kereta express), dan yang terakhir adalah kereta express (hanya berhenti pada stasiun tertentu, waktu berhenti tiap stasiun tertentu tersebut kurang dari 1 menit).  Jenis yang terakhir ini paling digemari di Jepang sehingga pada jam-jam sibuk tidak jarak kita diumpel-umpelkan seperti sarden begitu masuk ke kereta ini, tergencet habis. Tarif semua jenis kereta tersebut adalah sama, karena tarif dihitung hanya berdasarkan jarak stasiun kita masuk ke stasiun tempat kita keluar, yang harganya sudah ditetapkan secara resmi oleh pemerintah jepang dan tercantum di tabel harga tiket di setiap stasiun. Tabel harga ini biasanya tertempel dekat mesin penjual tiket kereta otomatis.

Sejurus kemudian, saya sudah sampai di jalur kereta menuju stasiun suzukakedai. Di tempat tunggu stasiun ada display besar berisi jadwal kedatangan kereta, yang selalu diupdate setiap saat- seperti display jadwal keberangkatan pesawat di bandara-bandara di Indonesia walau ukurannya kecil. Di dekat tempat tunggu kereta, kita juga bisa melihat jadwal keberangkatan kereta harian berisikan jarak masing-masing stasiun yang ditulis dengan standar berapa menit lama perjalanan ke stasiun tersebut, ditempatkan di sebuah papan besar.  Stasiun yang diberi tanda bulatan merah adalah stasiun tempat berhentinya kereta express. Dengan demikian jika kita hendak bepergian ke suatu stasiun dengan menggunakan kereta express sebaiknya memperhatikan tabel tersebut. Di stasiun-stasiun kereta di wilayah tokyo dan yokohama biasanya informasi disajikan dalam huruf romawi di samping tulisan kanji tentunya. Namun kota kecil lain di Jepang, hanya stasiun-stasiun tertentu yang juga menyediakan informasi dalam huruf romawi.

Kereta yang menuju stasiun suzukakedai akhirnya datang, sayapun naik ke kereta yang siang itu cukup lengang karena bukan jam-jam sibuk. Pada jam-jam sibuk, kita harus berdiri berbaris membentuk antrian hanya untuk masuk ke kereta. Di Jepang budaya antri adalah nilai budaya yang dijunjung tinggi dan berlangsung secara turun temurun. Bahkan saya pernah menjumpai barisan anak SD dan anak TK juga antri dengan tertib di halte bis hanya untuk masuk ke bis kota menuju rumah mereka di tengah guyuran hujan rintik-rintik- sebuah nilai yang sama sekali hilang di tengah masyarakat kita saat ini. Dalam hal antre untuk makan di warung makan, antre giliran untuk mendapat taksi, antre giliran untuk membayar bil di counter supermarket dan lain-lain Jepang boleh dibilang menetapkan semua norma tersebut.

Di dalam kereta tidak banyak yang bercakap-cakap, masing-masing diam karena tidak saling mengenal dan sibuk dengan aktifitas masing=masing. Jika tidak punya aktifitas mereka pun tidur di kereta sampai ke stasiun yang dituju. Di setiap gerbong kereta disediakan kursi khusus yang ditujukan untuk orang lanjut usia, wanita hamil, dan orang sakit-terletak di bagian pojok tiap gerbang dan berkapasitas 6 orang. Ada juga  gerbong khusus wanita yang pada jam-jam khusus hanya wanita yang boleh ada di gerbong tersebut-terletak di gerbong paling belakang rangkaian kereta listrik Jepang. Satu hal yang harus diketahui pula adalah ada larangan tertulis untuk mengobrol lewat handphone ketika kita berada di semua kendaraan di jepang, termasuk salah satunya adalah densha (kereta listrik Jepang), sedangkan untuk bersms ria diperbolehkan. Nada dering handphone juga harus diset pada modesilent. Orang Jepang di sekitar kita akan memandang kita dengan pandangan aneh dan tidak suka, jika kita melanggar aturan ini.

“Suzukakedai de gozaimasu.. suzukakedai de gozaimasu… “- suzukakedai… suzukakedai, suara lembut masinis kereta mengingatkan bahwa kereta sudah sampai di stasiun suzukakedai. Pintu kereta secara otomatis pun terbuka dan sayapun melangkahkan kaki keluar menapak stasiun suzukakedai. Setelah memasukkan tiket di mesin pemeriksa tiket otomatis, sayapun sudah berada di bagian luar stasiun suzukakedai. Hari itu suhu udara sekitar 12 derajat celcius, matahari yang malu-malu menampakkan dirinya memberi nuansa hangat di kulit. Hari itu saya sudah mulai memahami sistem transportasi di Jepang dan bersiap untuk mempelajari hal-hal menyenangkan lainnya.

Advertisements

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s