sharing pengalaman studi di jepang (1): awal cerita


Saya ingin mencoba berbagi pengalaman bagaimana perjalanan saya hingga bisa studi di Jepang, berhubung ada permintaan dari rekan wartawan yang mau mempublikasikan profil saya di koran beliau, halah sok artis . Saya Mokh. Sholihul Hadi dosen Teknik Elektro Universitas Negeri Malang, yang saat ini sedang melanjutkan studi di Tokyo Institute of Technology, Departement of Electronics and Applied Physics, Interdisciplinary graduate school of science and Engineering, bidang riset saya Nano Electronics. Saya lahir di keluarga sederhana di desa TanggungKramat Ploso, Jombang Jawa Timur Indonesia, bungsu  dari 4 bersaudara. Ayah saya H. A. Sarwi dan  ibu saya  Hj. Siti A’isyah, keduanya berprofesi sebagai PNS dan alhamdulillah semua anaknya juga jadi PNS, semuanya jadi dosen :). Dua kakak saya sedang merampungkan disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor, sedang satunya lagi baru saja diwisuda program Master kemarin pagi 14 Maret 2009. Kasih sayang orangtua, kegigihan beliau dalam membimbing putra-putrinya, pengorbanan, jerih payah, dan cinta yang tulus mengantarkan putra-putri beliau ke jalur expert di bidang masing-masing, haduh…. jadi kangen….

Sedikit mengulas latar belakang saya ya.. Saya menamatkan pendidikan dasar di MIN Rejoagung ploso Jombang tahun 1994, kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Ploso Jombang selesai tahun 1997, kemudian melanjutkan lagi ke SMAN1 Jombang selesai tahun 2000. Tahun 2000 hijrah ke kota Malang JawaTimur untuk meraih gelar Sarjana Teknik di Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya Malang, dan selesai tahun 2004. Selama rentang waktu tersebut alhamdulillah memperoleh beberapa penghargaan diantaranya: Medali Emas Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional tahun 2004, Medali Emas sebagai Peneliti Remaja terbaik tingkat Nasional bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa oleh LIPI tahun 2004, Medali Perak Lomba Karya Ilmiah Olahraga Mahasiswa Indonesia Direktorat Jenderal Olahraga Republik Indonesia tahun 2004, Mahasiswa Teladan Universitas Brawijaya Malang tahun 2004 dll. Terhitung sejak tahun 2004, sejak usia 22 tahun sebelum wisuda Sarjana saya, alhamdulillah diangkat sebagai dosen sekaligus PNS di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang Jawatimur. Selama masa pengabdian saya di Lembaga tersebut sampai dengan sebelum keberangkatan saya ke jepang tahun lalu, aktif di bidang kemahasiswaan dan juga kegiatan penelitian dosen. Beberapa karya penelitian telah dipublikasikan di Jurnal Nasional, dan proceeding Seminar Nasional. Pada tahun 2006, sempat dinominasikan sebagai Peneliti Muda terbaik tingkat Nasional bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Yang membanggakan bagi saya, pertengahan tahun lalu telah dipromosikan untuk menduduki Jabatan Lektor Kepala (satu tingkat di bawah Profesor), padahal untuk jabatan ini rata-rata senior saya membutuhkan waktu 20 sd 30 tahun masa pengabdian!.

Kembali ke topik semula tentang studi di Jepang yaa… . Kalau mencoba menghitung secara matematis, proses untuk bisa kuliah di Jepang boleh dibilang cukup panjang. Berawal dari keinginan untuk studi di Jepang, mencari universitas yang cocok, mencari pembimbing, menghubungi beliau, kirim berkas, test masuk, menunggu hasil, mencari beasiswa, mengurus administrasi, sampai akhirnya tiba di Jepang hampir memakan waktu 1,5 tahun. Akhir september 2007 saya menghubungi calon profesor saya di Tokyo Institute of Technology Jepang, Profesor Hiroshi Iwai. Perlu diketahui bahwa berdasarkan The Times Higher Education Suplement (THES), sebuah lembaga yang melakukan survey peringkat Universitas sedunia, tahun 2008 Tokyo Institute of Technology menempati peringkat ke-61 terbaik dunia dalam kategori umum dan peringkat ke-21 terbaik dunia dalam kategori teknologi serta peringkat ke-4 perguruan tinggi terbaik di Jepang. Satu hari setelah mengirimkan email ke beliau, email tersebut sudah dibalas. Beliau pun meminta saya mengirimkan berkas persyaratan pendaftaran, yang harus dikirim melalui surat. Dua minggu berikutnya profesor Hiroshi Iwai menghubungi saya lewat telepon, meminta saya untuk ujian wawancara lewat sambungan PC-PC  internet, waktu itu saya menggunakan Yahoo Mesenger . Ada 5 profesor yang mewancarai saya, yang kesemuanya adalah visiting profesor di laboratorium saya saat ini dan calon pembimbing saya profesor Hiroshi Iwai. Pertanyaannya seputar rencana riset, kemampuan bahasa Jepang, apa yang ingin diraih di masa depan, pengalaman penelitian dan lain-lain, intinya tentang kepribadian prestatif. Wawancara berlangsung kurang lebih 20 menit, dan langsung diputuskan saat itu juga hasil wawancaranya, dan yak…alhamdulillah beliau merasa sangat puas dan memberikan rekomendasi saya untuk masuk di Tokyo Institute of Technology. Proses selanjutnya adalah seleksi berkas, kelengkapan administrasi, dan sidang oleh panitia penerimaan mahasiswa baru untuk menyeleksi semua berkas yang masuk dari seluruh penjuru dunia.

Pertengahan Maret 2008 Letter of Acceptance dari Tokyo Institute of Technology sudah saya terima. Profesor sayapun meminta saya mencari beasiswa, beliau menyatakan bahwa saya tidak boleh mendaftar beasiswa Monbukagakusho tahun itu karena jadwal beasiswa Monbukagusho tidak cocok dengan Jadwal Tokyo Institute of Technology dan saya harus tiba di Jepang 1 Oktober 2008, belakangan saya ketahui bahwa tidak semua profesor di Jepang tahu tentang macam-macam jalur di Monbukagakusho, termasuk profesor saya .  Sayapun melamar beasiswa Dikti, yang baru dilaunchtahun 2008, yang bertujuan memberangkatkan dosen-dosen PTN dan PTS di Indonesia untuk studi di Perguruan Tinggi kelas dunia di Luar Negeri. Akhir Juni 2008 pengumuman beasiswa Diktipun diumumkan, hasilnya… alhamdulillah saya diterima. Beasiswa ini boleh dibilang sangat besar, mengkover semua kebutuhan hidup di Jepang sebesar 160.000 Yen/bulan,  uang masuk ke perguruan tinggi, Tuition fee, asuransi kesehatan, transportasi pp ke jepang dengan pesawat kelas ekonomi, uang kedatangan sebesar 160.000 Yen, dan uang buku tiap semester 25.000 Yen. Proses selanjutnya setelah mendapatkan beasiswa adalah mengurus administrasi yang begitu melelahkan antara lain mengurus ijin tugas belajar dari Institusi tempat saya bekerja, mengurus paspor dinas, bolak balik ke konsulat Jenderal Surabaya untuk mendapatkan Visa, memesan tiket pesawat dan lain-lain.

Setelah menumpang pesawat Japan Airlines JL-726, 29 september 2008 pukul 9 pagi waktu setempat, sayapun tiba di bandara Narita Tokyo Jepang.  Di bandara Narita Tokyo sayapun disambut Hendriyansah Syauddin-mahasiswa dari indonesia, senior saya di laboratorium yang sama sekaligus tutor saya selama di Jepang, yang disuruh profesor saya untuk membantu mengurus segala keperluan dan kesulitan saya selama di Jepang.  Dari bandara narita Tokyo ke Asrama saya di Nagatsuta Yokohama Jepang harus ditempuh dengan perjalanan selama 2 jam. Kami me milih menggunakan bus limousin menuju stasiun Tamaplaza, dari stasiun Tamaplaza kemudian naik densha (kereta listrik jepang) ke stasiun Nagatsuta, dari Stasiun Nagatsuta dengan menumpang mobil sensei (asisten profesor saya) diantar ke Asrama. Setelah check-in kamipun berangkat ke laboratorium saya, Iwai Laboratory (diambil dari nama panggilan Profesor Hiroshi iwai), yang berjarak 2 km dari asrama Nagatsuta House  Tokyo Institute of Technology. Dan mulai hari itulah petualangan saya di Jepang dimulai, mudah-mudahan bisa mendapat ilmu yang bermanfaat sehingga setelah pulang bisa memberi kontribusi besar buat bangsa dan negara, Amin!!

 * = artikel ini dimuat di koran Jawapos radar Mojokerto, edisi 12-13 Maret 2009

Advertisements

6 comments on “sharing pengalaman studi di jepang (1): awal cerita

  1. Ternyata ada juga yang dari Jombang ya… Hihihi, saya juga ah pengen ke Jepang kang. Nanti minta infonya ya.

Silahkan tuliskan Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s